Teheran, Harian Umum - Jutaan warga Iran, Sabtu (4/7/2026) pagi waktu setempat memadati Musalla Imam Khomeini di Teheran, untuk mengikuti upacara perpisahan kepada Ayatollah Seyed Ali Hosseini Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam yang tewas akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari, yang menjadi awal pecahnya perang antara kedua negara itu dengan Iran.
Menurut Kantor Berita Tasnim, warga yang datang berasal dari berbagai provinsi di Iran, sehingga Musalla itu dan sekitarnya menjadi lautan manusia.
"Warga yang sebagian besar merupakan pengikut setia Ayatollah Seyed Ali Hosseini Khamenei, tiba di Musalla beberapa jam sebelum pintu aula shalat dibuka. Pintu itu dibuka lebih awal, yaitu saat azan subuh berkumandang," kata media itu.
Saking banyaknya warga yang datang, aula shalat tidak dapat menampung mereka, sehingga meluber ke halaman utama aula shalat dan sekitarnya
"Rakyat Iran dari seluruh negeri, dari kota dan desa, serta yang pulang dari berbagai negara di seluruh dunia, berkumpul di Musalla untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin kaum tertindas di dunia," kata Tasnim lagi.
Di antara warga yang datang ada yang membawa bendera Iran, foto almarhum Ayatollah Seyed Ali Hosseini Khamenei, simbol "kepalan tangan", dan foto Pemimpin Revolusi Islam Iran pengganti Ali Khamenei, yaitu Ayatollah Seyed Mojtaba Hosseini Khamenei yang juga merupakan salah satu putra almarhum.
"Mereka mengucapkan selamat tinggal kepada almarhum, dan menyatakan kesetiaan kepada Imam yang berkuasa saat ini," kata Tasnim lagi.
Pada hari Jumat, sebuah upacara diadakan di Teheran bagi delegasi asing untuk memberikan penghormatan kepada Ayatollah Seyed Ali Hosseini Khamenei. Acara itu menjadi salah satu pertemuan terbesar para pejabat asing di Iran dalam beberapa dekade terakhir, dengan perwakilan dari seluruh Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan organisasi internasional utama, hadir.
Delegasi tersebut termasuk presiden, perdana menteri, ketua parlemen, menteri luar negeri, pejabat pemerintah senior, pemimpin politik, dan perwakilan organisasi keagamaan dan gerakan perlawanan.
Seperti diketahui, perang yang pecah selama 40 hari setelah serang AS dan Israel ke Iran pada tanggal 28 Februari, mengejutkan dunia karena target AS dan Israel untuk menaklukkan Iran dan mengganti Rezim Revolusi Islam yang saat ini berkuasa dengan rezim boneka yang dapat mereka kendalikan, gagal total
Tak hanya itu, alih-alih menguasai Iran yang kaya minyak, AS dan Israel justru mengalami kerugian besar, karena Iran menghancurkan pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar , Bahrain dan Kuwait, menembak jatuh puluhan pesawat canggih AS dan dronenya, dan meluluhlantakkan kota-kota di Israel, termasuk Tel Aviv.
Banyak pihak mengatakan bahwa Iran memenangkan perang ini, sementara di sisi lain AS berusaha memaksa Iran untuk mau berdamai dengan persyaratan yang diajukannya dan harus disetujui Iran, seperti bahwa Iran harus menghentikan program nuklirnya, menghancurkan fasilitas-fasilitas nuklirnya, menyerahkan uranium yang telah diperkaya, dan membuka kembLi Selat Hormuz dengan kendali tidak lagi di bawah Iran.
Iran menolak persyaratan AS dan mengajukan syaratnya sendiri yang antara lain menuntut asetnya yang senilai $24 miliar yang dibekukan AS, dicairkan; blokade AS atas perairannya dicabut, pada jaminan bahwa Inegaranya tidak akan pernah lagi diserang AS dan Israel, dan memperluas gencatan senjata hingga Lebanon.
AS menolak syarat tersebut dan mengancam akan membuat Iran hancur berkeping-keping jika tidak mau memenuhi syarat yang diajukan ya, akan tetapi Iran tidak gentar karena tahu, setelah kalah di medan tempur, AS ingin menang melalui meja perundingan.
Akhirnya, AS menyetujui syarat Iran yang terdiri dari 14 poin, dan nota kesepahaman ditandatangani secara digital pada tanggal 18 Juni 2026.
Namun, sayangnya Israel tetap menggempur Lebanon dan AS pun menyerang Iran lagi setelah Iran menembak kapal tanker berbendara Singapura dan Panama karena dianggap melanggar jalur yang dilarang untuk dilalui di Selat Hormuz. Selat itu memang kembali ditutup Iran karena menganggap AS telah melanggar klausul pertama nota kesepahaman yang menyebut bahwa area gencatan senjata juga meliputi Lebanon
Diselenggarakan hingga di Irak
Tasnim mengabarkan, upacara perpisahan dengan almarhum Ayatollah Sayyed Ali Hoseini Khamenei di Mushalla akan dilangsungkan selama dua hari, dan setelah itu dilanjutkan di Qom, Najaf, Karbala, dan Mashhad.
"Prosesi pemakaman utama di Teheran dijadwalkan pada 6 Juli, diikuti oleh upacara di Qom pada 7 Juli. Atas permintaan para ulama Irak, pemimpin suku, tokoh politik, dan masyarakat, upacara pemakaman tambahan akan diadakan di kota-kota suci Irak, Najaf dan Karbala pada 8 Juli," kata Tasnim.
Prosesi pemakaman terakhir akan berlangsung di kota suci Mashhad pada 9 Juli, setelah itu Ayatollah Khamenei akan dimakamkan di makam suci Imam Reza.
Upacara ini juga diselenggarakan untuk menghormati empat anggota keluarga Ayatollah Khamenei yang ikut gugur bersamanya dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari, yakn Dr. Mesbah al-Hoda, menantu Pemimpin Tertinggi; Seyedeh Boshra Hosseini Khamenei, putrinya; Zahra Haddad Adel, menantunya; dan Zahra Mohammadi Golpayegani, cucunya. (man)






