Jakarta, Harian Umum - Pemerintah akan kembali menaikkan harga BBM Nonsubsidi akibat lonjakan harga minyak dunia yang tembus $ 115 per dolar AS akibat konflik di Timur Tengah.
Kebijakan itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Jepang, Senin (30/3/2026).
Kenaikan harga BBM biasanya terjadi pada awal bulan, atau pada Rabu (1/4/2026) besok.
"Gini, di Peraturan Menteri ESDM tahun 2022 itu telah mengatur dua formulasi tentang harga BBM. Satu harga BBM industri dan satu non-industri. Kalau yang industri tanpa diumumkan pun dia terus terjadi berdasarkan harga pasar," kata Bahlil dikutip Selasa (31/3/2026).
Namun, ia menjelaskan bahwa hanya BBM kategori industri seperti bensin dengan RON tinggi, misalnya RON 95 dan RON 98, yang secara otomatis mengikuti mekanisme pasar.
"Jadi, mau diumumkan atau tidak diumumkan dia akan mengikuti harga pasar. Itu yang industri. Apa itu definisi yang industri adalah bensin RON 95, RON 98 itu kan orang-orang yang mampu lah," kata Bahlil.
Kepastian bahwa BBM Nonsubsidi tak akan naik, disampaikan DirekturJenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman.
"Yang penting untuk BBM subsidi tidak ada kenaikan," ujarnya, Senin (30/3/2026) malam dilansir kompas.com.
Dengan demikian, Harga BBM subsidi jenis Pertalite tetap dipatok sebesar Rp 10.000 per liter, sementara Biosolar tetap Rp 6.800 per liter.
Panik buying
Rencana pemerintah menaikkan harga BBM membuat masyarakat panik, sehingga terjadi antrean di sejumlah SPBU Pertamina pada Selasa (31/3/2026) pagi hingga siang hari ini, saat berita ini ditulis.
Antrean antara lain terlihat di SPBU Pertamina dengan kode 34.17137 yang berlokasi di kawasan Pulo Gebang, Jakarta Timur.
Masyarakat yang antre bukan hanya pemilik kendaraan roda empat, tapi juga pengemudi roda dua yang bisa menggunakan Pertamax yang termasuk BBM Nonsubsidi.
Antrean juga terjadi di SPBU Pertamina dengan kode 34.17138 kawasan Pulo Gebang, Jakarta Timur, dan SPBU Pertamina dengan kode 34-17116 di kawasan Bintara, Bekasi Barat, Jawa Barat.
"Mau isi Pertamax, karena dengar-dengar sih katanya kemungkinan bisa naik besok, meski belum tahu bakal naik berapa?" kata Rio, salah satu pengemudi motor yang mengantre.
"Mau isi Pertamax, karena infonya harganya naik besok," kata pengemudi yang lain.
Mereka berharap, kenaikan Pertamax tidak terlalu tinggi karena saat ini kondisi sedang sangat sulit.
"Kenaikan harga BBM ini pasti akan mendongkrak harga kebutuhan sehari-hari, sementara penghasilan kita nggak bertambah," kata Rio.
Ia berharap pemerintah bisa menjaga harga BBM dan tidak terpengaruh konflik di Iran, karena Indonesia negara produsen minyak.
Seperti diketahui, harga minyak dunia meroket akibat Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan serangan AS dan Israel yang menyerang negaranya demi menggulingkan pemerintahan Iran yang saat ini berkuasa. (rhm)


