Jakarta, Harian Umum – Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam mengkritik kebijakan PT Pertamina (Persero) yang mulai Minggu (1/3/2026) menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Dia menilai kebijakan tersebut justru menambah beban masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.
"Saya terus terang kecewa dengan keputusan Pertamina yang menaikkan harga BBM di tengah situasi ekonomi rakyat yang sedang tidak baik,” ujar Mufti dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/3/2026).
Menurut dia, kenaikan harga BBM ini dilakukan pada momentum yang sensitif, yaitu ketika masyarakat menghadapi pelemahan daya beli, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum sepenuhnya pulih.
"Hari ini rakyat sedang menghadapi kenyataan pahit. PHK terjadi di mana-mana, daya beli lemah, UMKM belum bertumbuh, dan di saat yang sama, kita masuk bulan Ramadhan, momentum di mana kebutuhan rumah tangga justru melonjak. Harga bahan pokok sudah naik, bahkan sebelum harga BBM naik,” katanya.
Mufti mencontohkan sejumlah komoditas yang harganya naik, yakni cabai, beras, dan minyak goreng, dan dia khawatir terjadi efek berantai terhadap ongkos distribusi, dan akhirnya mendorong kenaikan harga bahan pokok lainnya.
"Sekarang BBM ikut naik. Saya tidak bisa membayangkan efek berantainya yang harus ditanggung rakyat. Begitu BBM naik, ongkos distribusi naik, harga bahan pokok ikut terdorong,” kata politikus PDIP itu.
Daftar Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi
PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 245 Tahun 2022, yang mengatur evaluasi harga BBM secara berkala mengikuti dinamika pasar. Kenaikan berlaku mulai 1 Maret 2026 di seluruh SPBU Indonesia.
Karena kenaikan hanya untuk BBM nonsubsidi, maka harga BBM subsidi tetap di mana Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter dan Biosolar bertahan di harga Rp 6.800 per liter.
Berikut data kenaikan BBM nonsubsidi per 1 Maret 2026:
Untuk wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, berikut daftar harga BBM terbaru per 1 Maret 2026:
- Pertamax (RON 92): Rp 12.300 (dari Rp 11.800)
- Pertamax Green 95: Rp 12.900 (dari Rp 12.450)
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp 13.100 (dari Rp 12.700)
- Dexlite (CN 51): Rp 14.200 (dari Rp 13.250)
- Pertamina Dex (CN 53): Rp 14.500 (dari Rp 13.500)
Mengacu data dari PT Pertamina Patra Niaga, harga BBM di berbagai wilayah Indonesia juga mengalami penyesuaian.
Sumatera Aceh & Sumatera Utara
- Pertamax Rp 12.600
- Turbo Rp 13.350
- Dexlite Rp 14.500
- Pertamina Dex Rp 14.800
Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung
- Pertamax Rp 12.600
- Turbo Rp 13.350
- Dexlite Rp 14.500
- Pertamina Dex Rp 14.800
Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau
- Pertamax Rp 12.900
- Turbo Rp 13.650
- Dexlite Rp 14.800
- Pertamina Dex Rp 15.100
Sabang & Batam
- Pertamax Rp 11.750
- Turbo Rp 12.400
- Dexlite Rp 13.450
- Pertamina Dex Rp 13.800
Jawa (DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur)
- Pertamax Rp 12.300
- Turbo Rp 13.100
- Green 95 Rp 12.900
- Dexlite Rp 14.200
- Pertamina Dex Rp 14.500
Bali dan NTB
- Pertamax Rp 12.300
- Turbo Rp 13.100
- Dexlite Rp 14.200
- Pertamina Dex Rp 14.500
NTT
- Pertamax Rp 12.600
- Turbo Rp 13.350
- Dexlite Rp 14.500
- Pertamina Dex Rp 14.800
Kalbar, Kaltim, Klateng
- Pertamax Rp 12.600
- Turbo Rp 13.350
- Dexlite Rp 14.500
- Pertamina Dex Rp 14.800
Kalsel dan Kaltara
- Pertamax Rp 12.900
- Turbo Rp 13.650
- Dexlite Rp 14.800
- Pertamina Dex Rp 15.100
Seluruh Sulawesi
- Pertamax Rp 12.600
- Turbo Rp 13.350
- Dexlite Rp 14.500
- Pertamina Dex Rp 14.800
Maluku & Maluku Utara
- Pertamax Rp 12.600
- Dexlite Rp 14.500
Papua
- Pertamax Rp 12.600
- Dexlite Rp 14.500
- Turbo Rp 14.800
Papua Barat & Papua Barat Daya
- Pertamax Rp 12.600
- Dexlite Rp 14.500
- Pertamina Dex Rp 14.800
Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan
- Pertamax Rp 12.600
- Dexlite Rp 14.500
(man)


