Jakarta, Harian Umum- Acara pembagian 400.000 paket sembako di Monas, Jakarta Pusat, oleh Forum Untukmu Indonesia (FUI), Sabtu (28/4/2018), menimbulkan kemacetan parah di pusat Ibukota.
Kemacetan terjadi diduga akibat tak adanya koordinasi antara panitia dengan Polantas.
Dari pantauan harianumum.com, kemacetan tak hanya terjadi di jalan-jalan di sekitar Monas, seperti Jalan Medan Merdeka Selatan, Medan Merdeka Timur, Medan Merdeka Barat, Medan Merdeka Utara, dan MH Thamrin, namun meluas ke sekitarnya hingga kawasan Senen, Grogol dan Cempaka Putih.
Kemacetan terjadi karena panitia mengerahkan puluhan ribu massa dengan ratusan kendaraan umum yang disewa, namun di titik-titik kemacetan itu Polantas sama sekali tak terlihat.
Tak hanya itu, kemacetan juga terjadi karena bus-bus sewaan yang dikerahkan untuk mengangkut massa, diparkir di tepi jalan, termasuk di sekitar Masjid Istiqlal.
Di arena pembagian sembako di area Monas, polisi juga nyaris tak terlihat, sementara pengunjung pun tak segan-segan menginjak tanaman dan membuang sampah sembarangan.
Suasana memang sangat meriah, karena selain pembagian sembako, acara ini juga menampilkan acara seni budaya.
Tercatat ada 10 stan yang disediakan panitia untuk membagikan 400.000 sembako yang telah disiapkan yang hanya terdiri dari 1 kg beras, 0,5 kg minyak sayur dan 3 bungkus mie instan.
Saat petugas berkaos merah di stan-stan itu membagikan sembako, terjadi insiden anak hilang karena orang tuanya terlalu fokus mengantre untuk mendapatkan sembako gratis.
Hingga pukul 15:00 WIB tercatat ada 20 anak yang kehilangan orang tuanya, dan bahkan di tengah keriuhan itu ada isu bahwa ada anak yang meninggal.
"Iya, tadi saya dengar begitu, tapi saya nggak tahu anak perempuan atau laki-laki. Saya cuma dengar saja orang pada ngomong," kata Sulastri (32), warga Bekasi.
Ada tiga jenis kupon yang dibagikan FUI kepada massa yang dikerahkannya ini, yakni kupon berwarna biru, oranye dan kuning. Kupon berwarna biru untuk mengambil sembako gratis, sementara kupon berwarna oranye untuk makanan gratis, dan kupon berwarna kuning untuk kupon hadiah.
Makanan gratis yang diberikan berupa roti atau nasi dengan lauk orak-arik tempe dan nugget.
Fakta bahwa massa yang datang merupakan massa yang dikerahkan panitia, diketahui dari pengakuan sejumlah orang yang datang ke lokasi itu.
"Saya sama keluarga ke sini karena diajak sama pengurus RT, dikasih kupon dan disediain bus," kata Marto (30), warga Jelambar, Jakarta Barat.
Mereka yang datang ke Monas rata-rata mengaku diberi dua kupon, satu kupon untuk sembako dan satu kupon makanan, namun ada juga yang mendapat satu kupon sembako dan satu kupon hadiah.
"Ibu mendapatkan dari RT hari Jumat kemarin, dapat 2 kupon sembako dan 2 makanan karena untuk Ibu dan anak Ibu," kata Aan (50), warga Grogol, Jakarta Barat.
Selain dikerahkan dengan bus-bus carteran, massa yang dari luar kota, seperti dari Bogor dan Bekasi, didrop ke Monas dengan kereta api. Tiket kereta panitia yang menyediakan, sehingga Stasiun Juanda dan Gondangdia dibanjiri manusia yang terdiri dari orang dewasa, remaja dan anak-anak.
Ketika pulang dari Monas, orang-orang itu telah ditunggu di stasiun darimana mereka naik untuk ke Monas, untuk diminta kembali tiketnya.
"Karcis yang dari Monas! Karcis yang dari Monas!" teriak dua orang gadis berkaos merah yang salah satunya memegang dus dengan beberapa tiket kereta di dalamnya, di Stasiun Cilebut, Kabupaten Bogor.
Kedua gadis itu itu agaknya panitia yang menyediakan tiket untuk massa yang diberangkatkan dari Cilebut.
Sebelumnya, penyelenggaraan bagi-bagi sembako gratis ini sempat menyulut kontroversi karena dari undangan yang disebar melalui WhatsApp, acara itu disebut-sebut diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta, namun dibantah. Disparbud bahkan sempat melarang acara ini diselenggarakan karena rawan benuansa politik.
Namun kepada wartawan, Ketua Panitia FUI Dave Santosa memastikan kalau tak ada agenda politik dalam kegiatan ini karena merupakan kegiatan perayaan Paskah dan doa lintas agama. (rhm)




