Teheran, Harian Umum - Iran menangkap seorang warganya yang diduga kuat menjadi mata-mata bagi Israel.
Orang itu bernama Mujtaba Kian, karyawan di fasilitas peluncur rudal IRGC.
"Selama perang, ia diduga memberikan informasi pabrik kepada Israel. Pesan SMS yang dipertukarkan dalam sebuah grup juga telah ditemukan," kata pemilik akun X @IRAN_INFO24 yang mempublikasikan informasi itu, Rabu (27/5/2026).
Mujtaba bukan satu-satunya duri dalam daging bagi pemerintahan Republik Islam Iran yang saat ini tengah berkonfrontasi dengan AS dan Israel yang ingin menggulingkan pemerintahannya untuk digantikan pemerintahan boneka yang akan tunduk dan patuh kepada AS dan Israel.
Sebelumnya, pada tanggal 26 Mei 2026, Iran menggantung Gholamreza Khani Shekarab karena terbukti bekerja sama dan terlibat praktik spionase untuk badan intelijen Israel, Mossad.
Mizan Online menggambarkan Shekarab sebagai "salah satu pemimpin operasional Mossad di luar negeri... yang berupaya merekrut individu-individu di dalam negeri Iran" untuk "aksi anti-keamanan".
"Pada akhirnya, dalam operasi yang kompleks dan menggunakan taktik penipuan intelijen, terdakwa dipandu masuk ke negara ini dan ditangkap," sebut Mizan Online dalam laporannya.
Mundur dari waktu tersebut, tepatnya pada tanggal 13 Mei 2026, Iran menggantung Ehsan Afreshteh, seorang mata-mata yang dilatih Mossad di Nepal, yang menjual informasi sensitif kepada Israel.
Mizan Online melaporkan, sejak agresi AS dan Israel ke Iran pada tanggal 28 Februari 2026, Iran meningkatkan eksekusi mati di wilayanya, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan dugaan spionase atau tuduhan terkait keamanan.
Menurut sejumlah kelompok HAM, termasuk Amnesty International, Iran merupakan negara yang melaksanakan hukuman mati terbanyak kedua di dunia setelah China. (man)







