Jakarta, Harian Umum - Pasukan AS pada Senin (25/5/2026) tengah malam waktu Asia Barat (Timur Tengah) menyerang situs rudal di Iran selatan dan kapal-kapal yang mencoba memasang ranjau.
Serangan itu diketahui berdasarkan keterangan resmi Central Command (CENTCOM) AS.
“Pasukan AS melakukan serangan pertahanan diri di Iran selatan hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran,” kata Tim Hawkins, juru bicara CENTCOM, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Al Arabiya, Selasa (26/5/2026).
Pernyataan itu tidak memberikan rincian serangan dan hanya mengatakan bahwa targetnya termasuk situs peluncuran rudal dan kapal-kapal yang mencoba “memasang ranjau.”
Al Arabiya menilai, serangan ini membahayakan gencatan senjata yang rapuh dan menimbulkan keraguan baru tentang akan terjadinya kesepakatan antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang.
Serangan itu terjadi ketika para negosiator utama Iran tiba di Doha untuk putaran pembicaraan terbaru guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari, dimulai dari serangan AS dan Israel ke Iran untuk menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran yang saya ini berkuasa, dan ketika militer Israel meningkatkan permusuhan dengan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon selatan.
Pasar langsung bergejolak atas serangan itu dengan harga minyak yang berfluktuasi, meski masih di bawah $100 per barel, karena serangan itu membahayakan negosiasi yang juga mencakup masalah Selat Hormuz yang hingga saat ini ditutup Iran, sehingga "mencekik" pasokan bahan bakar global.
Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pada Selasa (26/5/2026) bahwa kesepakatan masih dapat dicapai, tetapi menegaskan pendiriannya mengenai selat tersebut.
“Ada beberapa pembicaraan yang berlangsung di Qatar hari ini. Jadi, kita akan lihat apakah kita dapat membuat kemajuan. Saya pikir ada banyak pembicaraan bolak-balik tentang bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi akan memakan waktu beberapa hari,” katanya kepada wartawan selama kunjungannya ke India, tanpa mengomentari dampak serangan tersebut.
Ia mengatakan selat itu "akan terbuka dengan satu atau lain cara".
"Apa yang terjadi di sana melanggar hukum, ilegal, tidak berkelanjutan bagi dunia, tidak dapat diterima," katanya.
Stasiun penyiaran milik Iran, IRIB, melaporkan beberapa ledakan keras terdengar di sekitar Bandar Abbas pada Senin (25/5/2026) sekitar tengah malam waktu setempat (sekitar 20.30 GMT).
IRIB juga melaporkan bahwa situasi di kota pelabuhan selatan itu normal dan pihak berwenang setempat sedang menyelidiki penyebab ledakan tersebut.
Respon keras Iran
Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, memperingatkan Amerika Serikat dan rezim Israel bahwa setiap agresi baru terhadap Teheran akan disambut dengan respons yang “jauh lebih keras” yang meluas hingga ke luar Asia Barat.
"Republik Islam Iran siap berperang dan telah mengidentifikasi targetnya jika terjadi serangan baru oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis,” tegas Shekarchi dikutip dari kantor berita Iran, Fars.
Ia juga mengingatkan bahwa jika perang kembali pecah dan ekspor Iran dicegah, Republik Islam Iran akan mencegah transfer minyak dari kawasan Timur Tengah. (man)







