Jakarta, Harian Umum - Sekitar 430 ribu warga Muslim Rohingya telah meninggalkan Myanmar dalam menghadapi gelombang kekerasan di negara bagian Rakhine. Muslim Rohingya menjadi sasaran penganiayaan dan diskriminasi di negara mayoritas Buddha tersebut.
Begitu juga di tempat pengungsian, mereka para Biksu radikal dekat ibu kota Sri Lanka memimpin serangan ke tempat penampungan aman untuk warga etnis Rohingya milik Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Petugas polisi mengatakan serangan itu dipimpin kelompok biksu berpakaian kuning, yang berusaha menghancurkan pagar dan memanjat dinding bangunan.
Dua polisi terluka dalam insiden itu massa melempari batu ke rumah aman dan membuang perabot di lantai dasar saat masuk ke gedung di lokasi tidak ada korban dalam peristiwa ini.
"Kami berhasil membendung para biksu radikal dan pengungsi akan dipindahkan ke tempat yang lebih aman," kata pejabat seperti dilansir AFP.
Salah satu biksu yang menyerbu gedung itu memasang sebuah video di situs jejaring sosial mengajak untuk bergabung dengannya dan menghancurkan tempat penampuangan ini.
"Ini adalah teroris Rohingya yang membunuh biksu Buddha di Myanmar," kata biksu itu dalam pernyataannya sambil menunjuk ibu-ibu Rohingya dengan anak kecil di pelukan mereka yang direkam kelompok radikal Sinhale Jathika Balamuluwa (Tentara Nasional Sinhala).
Sebanyak 31 pengungsi warga etnis Rohingya diselamatkan angkatan laut Sri Lanka pada Mei setelah ditemukan mengapung di sebuah kapal di perairan di utara pulau itu. Mereka akan dipindahkan ke negara ketiga dan diizinkan tinggal di Sri Lanka sambil menunggu dokumen diproses.
Para biksu Buddha Sri Lanka memiliki hubungan dekat dengan rekan-rekan ultra-nasionalis mereka di Myanmar. Keduanya dituduh mendalangi kekerasan terhadap minoritas Muslim di kedua negara ini.







