Jakarta, Harian Umum - Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) membuat panas suasana kawasan Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, saat menggelar aksi puncak bertajuk Indonesia Gelap, Kamis (20/2/2025).
Pasalnya, ketika hingga pukul 17:00 WIB tidak ada satupun pejabat dari Istana Negara yang datang untuk mendengar dan menerima aspirasi mereka, mahasiswa yang antara lain berasal dari Universitas Nasional (Unas), Universitas Bung Karno, Universitas Indonesia (UI) dan lain-lain, merubuhkan dua dari beberapa beton barrier yang dipasang polisi di jalan itu agar mahasiswa tidak dapat mendekati Istana yang berada di Jalan Medan Merdeka Utara.
Mahasiswa merobohkan kedua beton barrier tersebut dengan ditarik dengan tambang.
Beton barrier pertama dapat dirobohkan dengan agak mudah, akan tetapi beton kedua perlu tiga kali usaha, karena pada usaha pertama tambang yang digunakan putus, pada usaha kedua beton terlihat tidak bergerak sama sekali, dan pada upaya ketiga beton itu langsung roboh.
Mahasiswa pun bersorak-sorai. Mereka tak peduli.meski polisi berkali-kali mengingatkan agar jangan merobohkan beton, dan mereka melempari polisi dengan botol air mineral serta apa saja ketika polisi kemudian menutup jalan yang terbuka akibat beton barrier-nya dirobohkan, dengan pagar besi mobile.
Polisi lalu memberitahu bahwa mereka telah berkoordinasi dengan istana dan pihak istana menyatakan akan mendatangkan menterinya.
Ketika kemudian Menteri Sekretariat Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi datang bersama wakilnya, mahasiswa tak mau mendengar apapun yang dia katakan kalau tak mau naik ke mobil komando (Mokom) mahasiswa.
"Kami tidak punya senjata, kami tidak punya apa-apa, kenapa takut untuk naik ke sini," tantang mahasiswa dari Mokom.
Karena mahasiswa tak mau berkompromi, Mensesneg pun menghampiri Mokom dengan dikawal ketat polisi dan ajudannya, serta kedua wakilnya.
Dalam aksinya ini mahasiswa menyampaikan 13 tuntutan, yakni:
1. Ciptakan pendidikan gratis, ilmiah dan demokratis, serta batalkan pemangkasan anggaran pendidikan.
2. Cabut proyek strategis nasional (PSN) bermasalah, wujudkan reforma agraria sejati karena PSN kerap menjadi alat perampasan tanah rakyat.
3. Tolak revisi Undang-undang Minerba, karena revisi ini dinilai hanya menjadi alat pembungkaman rezim terhadap kampus-kampus dan lingkungan akademik ketika bersuara secara kritis.
4. Hapuskan multifungsi ABRI, karena keterlibatan militer dalam sektor sipil berpotensi menciptakan represi dan menghambat kehidupan yang demokratis.
5. Sahkan rancangan Undang-undang Masyarakat Adat, karena masyarakat adat membutuhkan perlindungan hukum yang jelas atas tanah dan kebudayaan mereka.
6. Cabut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Anggaran karena dinilai sebagai ancaman terhadap bagian-bagian yang justru menjadi kepentingan rakyat seperti pendidikan dan kesehatan.
7. Evaluasi penuh program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tepat sasaran, terlaksana dengan baik, dan tidak menjadi alat politik semata.
8. Realisasikan anggaran tunjangan kinerja dosen.l, karena kesejahteraan akademisi harus diperhatikan demi peningkatan kualitas pendidikan tinggi dan melindungi hak-hak buruh kampus.
9. Mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Perampasan Aset) karena korupsi merupakan hal mendesak yang harus segera diatasi, sekaligus untuk memberantas kejahatan ekonomi.
10. Tolak revisi Undang-Undang TNI, Polri, dan Kejaksaan karena berpotensi menguatkan imunitas para aparat dan militer, serta melemahkan penguasaan terhadap aparat.
11. Efisiensi dan rombak Kabinet Merah Putih. Borosnya para pejabat yang tidak bertanggung jawab harus diatasi dengan rombak para pejabat yang bermasalah.
12. Tolak revisi Peraturan DPR tentang tata tertib karena revisi saat sangat bermasalah dan bisa menimbulkan kesewenang-wenangan dari lembaga DPR.
13. Reformasi Kepolisian Republik Indonesia secara menyeluruh untuk menghilangkan budaya represif dan meningkatkan profesionalisme, karena polisi dinilai telah menyimpang jauh dari tugas dan fungsinya sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.
Dalam orasinya, mahasiswa antara lain mengatakan mengesahkan UU Perampasan Aset atau menerbitkan Perppu tentang Perampasan Aset lebih strategis dibanding melakukan efisiensi anggaran belanja yang juga berdampak pada anggaran pendidikan dan kesehatan.
"Negara ini rusak akibat korupsi. Dengan Undang-undang Perampasan Aset, negara dapat menyita harta para koruptor untuk menutupi defisit APBN," kata mahasiswa.
Saat sudah berada di atas Mokom, pernyataan Mensesneg Prasetyo Hadi sangat Indah.
"Secara pribadi (saya) langsung mengatakan menyanggupi (tuntutan mahasiswa), karena bagi saya apa yang adik-adik perjuangkan adalah apa yang selama ini juga kami peejuangkan. Kenapa kami ingin berpolitik? Ingin diberi amanah? Karena kami ingin memperjuangkan banyak hal seperti yang adik-adik peejuangkan," katanya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah terbuka dan akan menerima tuntutan BEM SI, dan mempelajarinya.
"Saya menawarkan karena kebetulan kami juga masih berdarah muda, berjiwa muda, mari saudara tunjuk perwakilan-perwakilan saudara. K ita berdialog, kita berdiskusi yang konstruktif. Mana yang kurang tepat, mari kita perbaiki bersama-sama. Ingatlah adik-adikku, kita ini satu bangsa, kita satu perahu, kita warga negara Indonesia. Anda cinta Indonesia, saya pun cinta Indonesia. Anda cinta Merah Putih, kami pun cinta Merah Putih. Saudara-saudara menghendaki pendidikan yang berkualitas, kita pun menghendaki pendidikan yang berkualitas. Saudara-saudara ingin pendidikan yang layak, yang murah, itu yang sedang kami perjuangkan. Mari kita kawal sama-sama, mari duduk bersama, (karena) semua bisa dibicarakan," imbuhnya.
Di ujung pernyataannya, Prasetyo menandatangani 13 tuntutan BEM SI.
Tak lama setelah itu, mahasiswa bubar karena target untuk menyampaikan tuntutan kepada Istana, berhasil, meski tidak dapat berdemo di depan Istana karena akses ke sana diblokade polisi dengan beton barrier yang dilapisi pagar kawat. (rhm)




