SISTEM PILPRES yang sekarang belaku di Indonesia hanya melahirkan presiden yang membawa keburukan, sehingga harus menjadi perhatian seluruh anak bangsa.
------------------------
Oleh: M.Hatta Taliwang
Mantan anggota DPR/MPR RI , Magasiswa S3 Ilmu Politik.
Kita harus serius memberi perhatian terhadap sistem Pilpres. Apalagi Pilpres langsung yang diterapkan di Indonesia punya banyak kelemahan sebagaimana telah saya tuliskan panjang lebar pada artikel sebelumnya (dilihat DI SINI dan DI SINI).
Intinya, sistem Pilpres langsung mengandung nilai spekulasi tinggi. Jika kebetulan Capres-nya berbobot, maka Indonesia punya harapan akan memiliki pemimpin yang berkualitas, punya integritas dan kompeten. Namun, kalau Capres-nya dipromosi oleh kelompok oportunis, maka bisa lahir presiden boneka para Sang Oportunis tersebut.
Kita menaruh perhatian serius atas sistem pemilihan presiden, karena kita sudah merasakan dampak dari salah memilih presiden akibat sistem Pilpres yang buruk.
Presiden tanpa kontrol MPR, tanpa GBHN, akan sesukanya mengacak-acak negara dengan berbagai cara, termasuk dengan tiba tiba memindahkan ibukota tanpa pembahasan di MPR, tiba tiba menyetujui proyek ratusan trilyun yang feasibility studi-nya diragukan oleh banyak orang seperti proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung misalnya, tiba-tiba arah pembangunan infrastrultur mengikuti arah jalur sutera, tiba tiba tambang batubara menjadi ekslusif kelompok tertentu, tiba tiba ada kabar tentang "penyeludupan" nikel 5,3 juta ton seolah negara tak tahu menahu, tiba tiba banyak bandara dibangun lalu mangkrak, tiba tiba ada penyimpangan ratusan trilyun di tambang timah, dan tiba tiba utang negara membengkak 3 kali lipat menjadi 24.000 trilyun (Dr. Said Didu).
Namun, di sisi lain rakyat tambah banyak yang miskin, sementara kekayaan empat konglomerat sama dengan 100 juta rakyat biasa.
Kemudian, tiba tiba keluarga tertentu dapat menunggangi kekuasaan dengan membangun dinasti, tiba tiba ada Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mengusir pribumi dari tanah leluhurnya tanpa penggantian yang wajar, tiba-tiba eks presiden dituduh sebagai Presiden nomor 2 terkorup di dunia, dan ada banyak hal lagi yang membuat Indonesia rusak gara gara sistem Pilpres yang melahirkan presiden buruk.
Semua musibah dan keburukan yang kita lalui selama 10 tahun terakhir ini dan yang membuat rezim sekarang seolah tukang cuci piring, karena persoalan sistem Pilpres yang melahirkan presiden tidak kompeten, tidak berkualitas dan tidak punya integritas yang janji-janjinya bagaikan angin surga, akan tetapi kebanyakan hanya dusta, bahkan manipulasi belaka.
Karena itu, saya berusaha mengingatkan teman teman agar peduli pada sistem Pillpres, sementara untuk sistem Pemilu legislatif (Pileg) dan pemilihan kepada daerah (Pilkada), baik pemilihan gubernur (Pilgub), pemilihan walikota (Pilwalkot) dan pemilihan bupati (Pilbup), monggo saja jalan karena tidak siginifikan pengaruhnya terhadap kondisi serta keselamatan bangsa dan negara.
Jadi, kalau kita berharap kebaikan dari presiden-presiden Indonesia ke depan, sistem Pilpres harus menjadi perhatian utama kita.(*)







