Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan jatuh ke posisi Rp18.129/dolar AS pada pada perdagangan sesi kedua, Senin (26/10/2026) siang.
Data Bloomberg menyebutkan, pada pukul 14:01 WIB rupiah terkoreksi tajam hingga 49 poin atau 9,27% dan jatuh ke posisi 18.129/dolar AS.
Di sisi lain, dolar AS menguat sejak pembukaan perdagangan Senin pagi, dan berada level Rp18.080 karena menguat 0,11%.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, rupiah saat ini mendekati level terendah sepanjang masa. Pada Juli 2026, BRI Danareksa mencatat dolar AS berada pada level Rp 18.279.
Riset tersebut menjelaskan, tekanan terhadap rupiah perlu diwaspadai menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada 29 Oktober 2026.
Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, tekanan inflasi, dan potensi penguatan dolar AS berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar dan arus modal asing.
Sementara itu, pelemahan rupiah berpotensi menekan IHSG melalui risiko arus modal keluar (capital outflow), kenaikan biaya impor, dan bertambahnya beban perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS.
"Bagi pasar domestik, pelemahan rupiah berpotensi menambah tekanan terhadap IHSG melalui risiko capital outflow, kenaikan biaya impor, dan meningkatnya beban perusahaan dengan utang berdenominasi dolar AS. Investor perlu mencermati pergerakan USD/IDR dan respons pasar terhadap keputusan The Fed," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas, Senin ini. (rhm)


