JOKO WIDODO terlihat galau ketika protokol hanya menyebutnya sebagai presiden Republik Indonesiaz dan tak ada applause untuknya.
-----------------------------
Oleh: Muslim Arbi
Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu
Saat pelantikan anggota DPR, DPD, dan MPR periode 2024-2029 pada 1 Oktober lalu Presiden Joko Widodo tidak disebutkan namanya oleh protokol, karena hanya disebutkan jabatannya saja, yakni Presiden Republik Indonesia.
Hadiran tampak tidak memberikan applause (tepuk tangan), tidak seperti pada pelantikan anggota DPR, DPD, dan MPR periode 2014-2019 dan 2019-2024 di mana nama Joko Widodo disebut berikut nama jabatannya,dan hadirin memberikan aplause yang luar biasa, gegap gempita.
Sebaliknya, saat nama presiden terpilih Prabowo Subianto disebut namannya, hadiran di Senayan memberikan applause yang meriah.
"Kejadian di Senayan itu tragis," kata Pengamat Politik Rocky Gerung.
Terlihat wajah Joko Widodo lesu dan gamang. Apakah itu akan menjadi pertanda buruk setelah tidak menjabat lagi pasca Prabowo dilantik sebagai penggantinya pada tanggal 20 Oktober 2024? Wallahu'alam.
Menjelang Joko Widodo lengser pada 20 Oktober 2024, di berbagai baerah, termasuk di Solo darimana Jokowi berasal, muncul deskan agar presiden yang akrab disapa Jokowi itu ditangkap dan diadili. Sebab, Joko Widodo bukan saja meninggalkan legasi yang kurang baik, tetapi kebijakanya juga banyak yang membohongi, melukai dan menzalimi rakyat. Proyek IKN, impor pangan yang gila-gilaan sehingga memukul petani, utang yang mencapai Rp8.000 triliun lebih, dan UU Omnibuslaw Cipta Kerja adalah beberapa di antaranya.
Dengan demikian, desakan untuk ditangkap dan diadili tentu akan menjadi pukulan berat bagi Joko Widodo, keluarga dan kroninya.
Terlebih lagi Joko Widodo memaksakan puteranya agar menjadi wakil presiden yang melawan UU, dan itu menciderai konsitusi, hukum, demokrasi dan moral kekuasaan.
Makanya, tidak mengherankan jika mendadak saja akun Kaskus Fufufafa yang diyakini milik Gibran Rakabuming Raka mendadak mencuat ke publik danmenjadi tranding topik karena diangkat habis-habisa oleh nitizen.
Akun itu berpotensi memecah hubungan Gibran dan Joko Widodo dengan Prabowo, dan pasti menjadi pukulan telak bagi bagi keduanya, keluarga dan kroninya.
Apalagi karena para pendukung dan penjilatnya pun sudah berbalik mengecam dan menyerangnya.
Belum lagi muncul gugatan oleh HRS dkk di PN Jakarta Pusat soal janji bohong dan utang yang harus di bayar oleh Joko Widodo setelah lengser.
Pemaksaan terhadap Gibran, putra sulungnya, agar menjadi wakil presiden dengan mengintervensi Mahkamah Konstitusi merupakan suatu kezaliman terhadap bangsa Indonesia jika ditinjau dari aspek usia, kematangan, kondisi kejiwaan dan kapasitas berpikirnya.
Sebab, Joko Widodo memaksakan orang yang belum layak untuk didudukkan sebagai wakil presiden.
Mungkin, karena dia adalah Raja Jawa sebagaimana dikatakan Bahlil Lahadalia secara tersirat, maka dia bisa sesukanya?
Memang dia siapa?
Nah, ekspresi wajah Joko Widodo di Senayan saat pelantikan anggota DPR, DPD dan MPR, saat namanya tak disebut dan tidak mendapat applause, terlihat galau.
Sambutan "wakil rakyat" periode 2024-2029 yang dingin itu dapat dianggap pukulan bagi kebesaran nama Jokowi yang dibangun melalui pencitraan di media, khususnya media mainstream, sejak dia akan mengikuti Pilkada Jakarta 2012, dan kemudian berlanjut di Pilpres 2014 dan 2019.
Apakah ini awal dari mimpi buruk Joko Widodo? Apakah dia benar-benar akan ditangkap, diadili dan dipenjara?
Dosa dia terlalu besar bagi bangsa dan negara Indonesa. Dia tak layak dimaafkan, karena telah membohongi rakyat dan merusak Indonesia dengan kebijakan-kebijalannya yang lebih pro oligarki dan asing.


