Aceh, Harian Umum - Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil, mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah pusat terhadap wilayah yang dipimpinnya, meski bersama sebagian besar wilayah di Aceh, Kabupaten Aceh Utara juga diterjang banjir bandang pada November 2025 lalu.
Padahal, Aceh Utara termasuk wilayah terdampak paling parah dalam musibah tersebut.
"25 kecamatan kami terendam banjir, dua kecamatan longsor, 213 jiwa meninggal dunia. Karena sinyal telekomunikasi dan lisrik padam, kami tidak viral. Maka, seakan nasional tidak tahu ada bencana banjir di Aceh Utara," kata Ayahwa, sapaan Ismail A Jalil, dalam rapat Satuan Tugas (Satgas)!Pemulihan Pascabencana DPR, Selasa (30/12/2025).
Rapat itu dipimpin Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, dan berlangsung di Aceh.
Ayahwa bercerita bahwa pada pekan pertama banjir, akses komunikasi dan listrik terputus, sehingga tidak bisa disiarkan dan tidak menjadi viral di media sosial.
Ia kemudian mengaku pernah meminta helikopter untuk mendistribusikan bantuan ke daerah pedalaman Aceh Utara yang akses daratnya terputus total, namun permintaan tersebut tidak dipenuhi.
"Pak Presiden selalu ke Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Pidie Jaya, tapi di Aceh Utara kayaknya tidak tau ada banjir, kami sinyal tidak ada, telepon mati, makanya tidak viral," keluhnya dengan sedih..
Ia membandingkan banjir di wilayahnya dengan di Bireuen yang viral karena jembatan putus, serta Aceh Tamiang yang viral karena pusat kotanya terdampak.
"Sinyal ponsel mati, kami hanya bisa melihat saja, rumah hanyut, masjid, manusia hanyut. Kami hanya bisa lihat dari atap meunasah (musala)," ungkap dia.
Ayahwa menilai, minimnya publikasi membuat pejabat pusat seolah menutup mata terhadap bencana di Aceh Utara. Ia mengapresiasi kedatangan Ketua MPR RI Ahmad Muzani ke Langkahan, Aceh Utara.
"Mohon maaf bukan saya kasar, tapi ini curahat hati saya," pungkasnya.
Data BNPB per Selasa (30/12/2025) menyebut, banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara pada November 2025 lalu menelan korban jiwa 1.141 orang, sementara 163 orang hilang dan 395.800 mengungsi.
Jumlah korban tewas terbanyak di Aceh Utara, yakni sebanyak 213 orang, disusul Agam (192 orang) dan Tapanuli Tengah (127 orang). (man)







