Bogor, Harian Umum - Para politisi Kota Bogor, Jawa Barat, yang berencana maju di Pemilihan Walikota (Pilwakot) di wilayah itu, semakin ketar-ketir menjelang 2 Januari 2018, karena mulai hari itu KPUD membuka pendaftaran para calon.
Ketegangan bertambah karena sebelum tanggal itu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai dimana mereka bernaung, yang diharapkan akan mengusung mereka di Pilwalkot tersebut, akan mengelurkan rekomendasi terkait kader yang mana yang akan dipertarungkan sebagai calon walikota (Cawalkot) maupun calon wakil walikota.
Kader Partai Gerindra yang bakal nyalon sebagai calon wakil walikota Bogor, Harry Ara, mengatakan, ia optimis DPP partainya akan memberikan kepercayaan kepadanya untuk maju di Pilwalkot tersebut.
"Sejak awal Pak Prabowo (ketum DPP Partai Gerindra) menyatakan akan memprioritaskan kader partai dalam Pilkada," katanya kepada harianumum.com melalui siaran tertulis, Rabu (27/12/2017).
Ia yakin, DPP takkan memilih calon dari eksternal partai karena calon seperti ini hanya memanfaatkan Gerindra untuk kepentingan kekuasaan semata, sehingga jika telah terpilih, bukan mustahil Gerindra akan ditinggalkan seperti yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Selain itu, calon dari eksternal partai belum pernah berkeringat bersama Gerindra, sehingga jika meminjam pepatah Sunda, calon seperti itu mah "ujug-ujug bagai "malaikat" karena mendadak menjadi sangat baik terhadap Gerindra.
"Banyak daerah yang seperti ini (mengusung calon dari eksternal partai). Jadi, DPP Gerindra tidak boleh "terhipnotis" dengan manuver-manuver yang ada. Partai Gerindra adalah partai kader (yang saat ini sedang) diuji apakah akan konsisten dengan perjuangannya," imbuh dia.
Menurut politisi yang akrab disapa Kang Harry ini, jika rekomendasi yang dikeluarkan Gerindra di sejumlah daerah, termasuk Kota Bogor, bukan jatuh kepada kader, maka akan menjadi preseden buruk bagi partai Gerindra ke depan.
"Tapi saya masih yakin Pak Prabowo Subianto dan Pak Ahmad Muzani sebagai ketua umum dan sekretaris jenderal akan objektif melihat kader mana yang negarawan dan punya pengalaman di pemerintahan, sehingga itulah yang akan direkomendasikan," imbuhnya.
Politisi yang juga berprofesi sebagai pengacara ini juga mengingatkan bahwa karena Gerindra merupakan partai nasionalis, sehingga kader yang direkomendasi pun harus sejalan dengan napas partai, yakni yang berjiwa nasionalis pula.
"Jangan sampai Gerindra mengalai disorientasi dalam menempatkan dan atau mendistribusikan kader, karena kader akan memberikan "warna" partai kepada masyarakat," imbuhnya.
Kang Harryberjanji, jika DPP Gerindra merekomendasikan dirinya untuk maju sebagai calon wakil walikota di Pilwalkot Bogor, ia juga akan merangkul ulama, habaib dan rohaniawan lain untuk membangun Kota Bogor.
"Masukan dan saran mereka sangat berarti, ditambah para budayawan Sunda pun akan berada di depan dalam pembangunan Kota Bogor. Seluruh stakeholder Pemerintah Kota Bogor harus diperhatikan untuk kemajuan Kota Bogor," tegasnya.
Ia yakin peluangnya untuk menang di Pilwalkot Bogor sangat besar, menyusul adanya kesepakatan Gerindra, PAN dan PKS untuk berkoalisi di penyelenggaraan Pilkada di lima provinsi, termasuk Jawa Barat.
"Jika saya dipasangkan dengan kader PKS, misalnya dengan Pak Suwono sebagai cawalkot, insya Allah kami akan menang seperti pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu," pungkasnya. (rhm)





