Jakarta, Harian Umum - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok parah saat perdagangan pada Selasa (8/4/2025) dibuka yang merupakan perdagangan perdana pasca libur Lebaran, sehingga terkena trading halt atau penghentian sementara perdagangan
Data RTI Business menunjukkan, pada pukul 09.01 WIB atau saat perdagangan dibuka, IHSG langsung terkoreksi 9,19% atau 598,55 poin dan jatuh ke level 5.912,06.
Pergerakan IHSG berada pada rentang yang sangat tipis, yakni di antara 5.912 hingga 5.914, sementara total perdagangan saham mencapai 1,59 miliar lembar dengan nilai transaksi mencapai Rp1,92 triliun dan frekuensi sebanyak 64.620 kali.
Tercatat 9 saham menguat, 552 saham melemah, dan 65 saham stagnan.
Kapitalisasi pasar atau market cap Bursa tercatat mencapai Rp11.280 triliun.
Seperti dilansir Bisnis, Equity Research Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan sebelumnya mengatakan bahwa tekanan ke IHSG akan terjadi pada perdagangan hari ini seiring dengan dibukanya kembali perdagangan saham pasca libur Lebaran.
"Tekanan karena tarif Trump sangat besar dan juga jadi penyebab anjloknya bursa saham di global beberapa hari kemarin," ujar Felix, Senin (7/4/2025).
Sebagaimana diketahui, tarif impor AS resmi diumumkan oleh Trump pada Rabu (2/4/2025) waktu setempat. Seluruh negara diganjar tarif impor 10%, sedangkan beberapa negara turut dikenakan tarif resiprokal (reciprocal tariffs) lebih tinggi berdasarkan hambatan perdagangan dengan AS.
Seiring dengan kebijakan Trump itu, indeks saham di sejumlah negara berguguran. CCMP Index di NASDAQ misalnya, ambruk 11,44%. Hingga Jumat (4/4/2025) lalu SPX Index di S&P 500 juga melorot 10,53% dan DJI Index di Dow Jones jeblok 9,26%.
CAC Index di Bursa Prancis melorot 7,43%, DAX Index di Bursa Jerman melorot 7,81%, dan IBEX Index di Bursa Spanyol ambrol 6,95%.
Sebelum libur Lebaran dan kala itu tarif impor belum diumumkan Trump, pada perdagangan terakhirnya tanggal 27 Maret 2025 IHSG mengalami penguatan 0,59% ke level 6.510,62, akan tetapi masih di zona merah karena melemah 8,04% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Felix mengatakan, selain kebijakan Trump, lemahnya nilai tukar rupiah yang hampir menyentuh level Rp17.000 per dolar AS juga menjadi katalis negatif bagi IHSG.
"Investor pada Selasa pagi mungkin akan bereaksi negatif karena mem-price-in fenomena di global. Investor juga perlu wait and see terlebih dahulu atas bagaimana langkah pemerintah Indonesia menyikapi tarif Trump," katanya.
Ia meyakini, apabila kompromi pemerintah Indonesia atas tarif AS berhasil, peluang membalikan sentimen menjadi positif terbuka. (man)







