Jakarta, Harian Umum - Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr Daryono Perwira Sakti mengatakan, gempa dengan magnitudo 5,9 di Jakarta pada Sabtu (12/9/2026) pukul 04:33 WIB merupakan gempa bumi hiposenter dalam yang dipicu patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia.
"Peristiwa gempa bumi yang terjadi pada Sabtu pagi, 12 September 2026, pukul 04.23 WIB merupakan contoh klasik dari fenomena gempa bumi hiposenter dalam (deep focus earthquake)," kata Daryono melalui akun X-nya, Sabtu (12/9/2026).
Berdasarkan analisis seismologi dan tektonik, lanjut mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG itu, berikut adalah poin-poin kunci untuk memahami mekanisme dan dampaknya:
1. Mekanisme Sumber (Intra-slab Event):
Gempa ini bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif di dangkal, melainkan akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa (Zona Benioff) hingga kedalaman 358 km. Proses deformasi batuan di dalam lempeng yang tersubduksi ini dikategorikan sebagai peristiwa intra-slab.
2. Jalur Perambatan Energi & Pola Guncangan Unik:
Meskipun episenter (pusat gempa di permukaan) berada di wilayah Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getaran gempa justru dirasakan lebih awal dan lebih kuat di Jawa bagian selatan, seperti Sukabumi. Hal ini terjadi karena gelombang seismik merambat paling efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan sebelum menyebar ke permukaan.
3. Spektrum Guncangan Luas namun Tidak Merusak:
Kedalaman hiposenter yang melebihi 300 km (deep focus) menyebabkan spektrum attenuasi gelombang melemah secara bertahap, tetapi menjangkau area geografis yang sangat luas (dari Sumatra hingga Jawa Bagian Timur dan Kalimantan). Meskipun wilayah jangkauan getaran sangat lebar, energi di permukaan sudah terdisipasi sehingga tidak berpotensi menimbulkan kerusakan struktural.
4. Karakteristik Gempa Susulan:
Karena gempa terjadi pada batuan litosfer samudra yang sangat homogen di kedalaman ratusan kilometer, pelepasan tegangan (stress release) cenderung terjadi secara total dalam satu peristiwa utama. Oleh karena itu, gempa deep focus jenis ini sangat jarang memicu gempa susulan (aftershocks).
Seperti diberitakan sebelumnya, akun X BMKG gempa melaporkan, gempa itu memiliki episentrum di 5.81 LS - 106.56 BT dari kedalaman 376 kilometer.
"Pusat gempa berada di laut, 49 kilometer barat laut Jakarta," kata @infoBMKG.
Guncangan dirasakan di Cilacap (Jateng), Nagrak (Sukabumi, Jabar) dan Kelapanunggal (Bogor, Jabar) dalam skala III MMI.
Guncangan juga dirasakan wilayah Bandung dan wilayah Jabar yang lain, bahkan hingga ke Jatim dan Sumbar dengan skala II-III MMI, yakni di Rancaekek, Lembang, Garut, Bandung, Sukabumi, Cianjur Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo, Malang, Kota Bengkulu, Sumur, Padang, Mentawai, Pariaman dan Solok Selatan.
Tiga wilayah di Lampung juga ikut terguncang dalam skala II MMI, yakni Lemong, Semaka, dan Bengkunat.
Sementara Nias Tengah juga terguncang dengan skala II MMI.
"Guncangannya gede banget, menjelang salat subuh," kata Awan, warga Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, melalui telepon seluler. (rhm)







