Jakarta, Harian Umum - Forum Tanah Air (FTA), forum diaspora Indonesia yang memiliki perwakilan di 21 negara, memberikan empat catatan penting yang dapat dijadikan pedoman bagi para pemilih di Pilkada Serentak 2024 agar tidak salah memilih pemimpinnya.
Catatan ini diberikan atas dasar keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan negara saat ini.
"Sahabat seperjuangan FTA di manapun berada, Pilkada serentak 2024 sudah di depan mata. Calon-calon kepala daerah dari tingkat provinsi/kabupaten/kota akan sibuk mencuri hati rakyat agar memperoleh suara, tidak peduli apapun caranya," kata FTA sebagaimana dikutip dari Pernyataan Sikap & Seruannya yang diterima harianumum.com, Minggu (30/6/2024).
Pernyataan itu ditandatangani Ketua Umum DPP FTA Tata Kesantra, Ketua Harian FTA Donny Hendricahyono, dan Sekjen FTA Ida N. Kusdianti.
FTA menilai, sebagian masyarakat/pemilih memberikan suaranya dengan harapan setelah terpilih, kepala daerah pilihannya akan memperjuangkan kepentingan rakyat melalui penyelenggaraan dan pelayanan pemerintahan yang berpihak kepada rakyat secara maksimal, tetapi sebagian lainnya tidak begitu peduli dengan sosok, bahkan program calon pemimpinnya.
Sebab, bagi mereka pemberian berupa Bansos, serangan fajar atau lainnya lebih penting dari pada semua rencana-rencana kerja sang kandidat untuk mendapatkan suara mereka.
"Inilah kenyataan yang harus dilalui dalam kontestasi politik di Tanah Air, sehingga wajar bila pragmatisme sangat tinggi, tidak saja di antara para calon pemimpin, tapi juga di kalangan pemilih," katanya.
Namun, FTA menegaskan bahwa hal tersebut bukan menjadi alasan untuk berdiam diri dan membiarkan semua anomali politik berlangsung.
"(Sebab) sampai kapan kita bisa menerima keadaan ini sebagai suatu kenyataan dalam kehidupan berpolitik?" tanyanya.
FTA mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dalam memberikan suaranya terhadap para calon kepala daerah saat Pilkada serentak yang diselenggarakan pada 27 November 2024.
"Rekam jejak para calon harus dipertimbangkan sebelum memutuskan pilihan, karena suara yang diberikan akan berpengaruh dalam situasi dan kondisi kehidupan rakyat selama lima tahun ke depan," katanya.
FTA juga mengingatkan bahwa sudah saatnya rakyat menjadi pemilih cerdas dan tidak buta politik.
Rakyat harus belajar dari pengalaman buruk dalam setiap kontestasi Pemilu selama ini di mana rakyat lebih sering tertipu oleh janji-janji calon pemimpin melalui taktik politik tanpa realisasi. Ini juga terjadi karena rakyat mudah terbuai oleh tebar pesona para kandidat yang menjanjikan kehidupan bermasyarakat yang serba ideal, tetapi ternyata malah berujung pada kekecewaan karena ternyata janji-janji kandidat yang dipilih hanyalah isapan jempol belaka.
Selain kelemahan pada aspek masyarakat, FTA juga menyoroti sistem perpolitikan di Tanah Air yang menganut sistem transaksional, sehingga ketika kandidat berjuang untuk mendapatkan partai yang mengusungnya, kandidat sudah melakukan politik transaksional (dengan membayar mahal yang nilainya sangat tinggi, mencapai angka miliaran rupiah, red).
Kemudian, ketika berupaya mendapatkan dukungan masyarakat agar terpilih saat kampanye, kandidat kembali melakukan politik transaksional (dengan melakukan serangan fajar, memberikan Sembako dan lain-lain, red).
Akibatnya, ketika kandidat terpilih, kandidat memperhitungkan semua biaya yang dikeluarkan agar dapat kembali, bahkan dengan jumlah yang lebih, karena "modal" yang dikeluarkan untuk biaya mahar ke Parpol dan "menyuap" rakyat dengan Sembako, uang dan lainnya, dianggap sebagai investasi (return on investment/ROI).
"ROI itu menjadi bagian dari prioritas saat kandidat yang terpilih berkuasa (memimpin), selain upaya bagaimana agar tetap bisa berkuasa," imbuh FTA.
Untuk menghadapi berbagai hal tersebut, berikut catatan FTA yang perlu menjadi perhatian para pemilih;
1. Jangan biarkan DINASTI POLITIK terjadi di daerah.
"Negara kita adalah negara Demokrasi, BUKAN MONARKI. Dari daerahlah diharapkan menjadi pondasi utama dalam menggerakkan ekonomi nasional," kata FTA.
2. Jangan pilih calon pemimpin yang punya rekam jejak dan pernah terkait KORUPSI, KOLUSI & NEPOTISME (KKN).
"Ini syarat mutlak pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab," tegas FTA.
3. Jangan gadaikan suara demi rupiah karena pemberian “serangan fajar” dari calon kepala daerah, itu sangat merugikan kehidupan rakyat.
"Beberapapun rupiah yang diberikan hanya bisa digunakan untuk sesaat, tapi dampak kerugian yang ditimbulkan akan dirasakan selama mereka menjabat," FTA mengingatkan.
4. Pilih calon pemimpin yang punya rekam jejak positif, memiliki ide dan gagasan yang baik untuk membangun dan mensejahterakan rakyat daerahnya.
"Anda sendirilah yang memiliki pilihan untuk membentuk masa depan Anda dan masyarakat di sekitar Anda. Segala yang terjadi dalam hidup ini adalah hasil dari pilihan yang Anda buat," pungkas FTA. (rhm)







