Jakarta, Harian Umum - Badai tropis atau siklon Cempaka dan Dahlia yang melanda Indonesia tidak berdampak persedian beras. Meski ada bencana banjir di Jawa, namun pasokan beras banyak surplus datang dari Sulawesi.
Masalah banjir sudah diantisipasi pihak Kementerian pertanian dengan mengadakan asuransi 647.000 hektare lahan petani. 3 juta irigasi tersier dibangun selama 1 tahun 2 bulan dari target 3 tahun, pembangunan embung 30.000 unit, pembangunan sumur dangkal dan sumur dalam.
"Stok beras aman Cetak sawah, kita urai dari awal, 2014 hanya 26.000 hektare, sekarang 138.000 hektare, naik 500 persen." katanya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pun menjamin stok beras saat ini tergolong aman terhindar dari paceklik dan masih bisa surplus hingga 400.000 ton atau aman sampai 5-6 bulan mendatang.
"Hari ini kami melakukan sidak, dan melihat kebijakan Harga Eceran Tertinggi," ujar Andi, Senin (4/12/2017) siang saat meninjau Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur.
Ia menyebutkan harga beras medium saat ini masih stabil di harga Rp 7.800 hingga Rp 8.400 per kilogram dan keberadaan stok di Pasar Induk Cipinang masih aman.
"Produksi aman, dan suplai masuk Cipinang 3.493 ton sampai jam 7 pagi, bila dihitung genap sampai tengah malan bisa mencapai 4-5.000 ton masuk ke Cipinang," tambah Andi.
Dampak banjir disebutkannya melanda sedikitnya 40.000 - 100.000 hektare. Namun Kementerian Pertanian mencatat produksi beras per bulan mencapai 1,1 juta ton dikali 6 sentra produksi.
"Artinya 6 juta ton beras kita produksi, itu langsung dibagi dua, kebutuhan pangan masyarakat setiap bulannya mencapai 2,6 juta ton. Artinya kita masih surplus 400.000 ton," jelas Menteri Pertanian.(tqn)







