Jakarta, Harian Umum - Ketua Umum Partai Ummat, Ridho Rahmadi, mengungkap bahwa bukan hanya Sirekap dan pemilu2024.kpu yang servernya di Cloud milik Alibaba Group, perusahaan asal China di Singapura, tapi juga sistem sistem berbasis web milik KPU yang lain.
Hal itu ia ungkap dalam video yang di-posting di akun X-nya, Kamis (29/2/2024).
"Saya baru saja mendapat informasi yang membuat saya terkejut, terperangah, karena ternyata bukan hanya Sirekap dan pemilu2024.kpu yang host atau servernya di Cloud Alibaba, tapi juga benerapa sistem berbasis web yang vital yang juga digunakan dalam penyelenggaraan Pemilu 2024," kata Ridho.
Dia menyebut sistem berbasis web milik KPU yang servernya berada di Cloud milik Alibaba adalah
sipol.kpu, silon.kpu, dan sikadika.kpu
Ridho menjelaskan, Sipol digunakan Parpol untuk mendaftar sebagai peserta Pemilu 2024. Berbagai dokumen untuk memenuhi persyaratan menjadi peserta Pemilu di-up load ke sistem itu, termasuk dokumen keanggotaan yang berhubungan dengan data identitas yang bersifat sensitif seperti NIK, foto KTP, alamat dan lain-lain.
Berdasarkan dokumen yang diunggah itu, KPU melakukan verifikasi administrasi dan verifikasi faktual, serta memutuskan Parpol mana saya yang memenuji syarat
"Itu semua prosesnya melalui sipol.kpu," tegas Ridho.
Silon, lanjut Ridho, digunakan Parpol untuk mendaftarkan calegnya. Data-data sensitif berupa data-data yang bersifat private, seperti biodata, ijazah dan lain-lain semua diunggah ke Silon.
Sedang Sikadeka, jelas Ridho, digunakan Parpol dan Caleg untuk meng-upload detil terkait hal-hal yang berkaitan dengan kampanye, termasuk program dan dananya.
"Sekarang bayangkan Sipol, Silon, Sikadeka, Sirekap dan pemilu2024.kpu itu semuanya diletakkan di dalam perusahaan swasta asing. Ini bahasa lainnya adalah kita sedang terjajah secara digital, kita tidak punya kedaulatan digital, tidak mampu melindungi data-data yang sangat penting itu," katanya.
Ia pun mempertanyakan, dengan anggaran mencapai puluhan triliun, mengapa KPU tidak jauh-jauh hari menyiapkan server sendiri, karena SDM di Indonesia cukup memadai, dan KPU dapat bekerjasama dengan kementerian atau lembaga tertentu untuk membuat server yang sesuai standar dan sesuai kebutuhan.
Ridho juga mengeritik mengapa KPU memilih server dari perusahaan asal China
"Padahal kita tahu, China punya politik levinsraum, politik ekspansionis, dan kita juga tahu China punya kepentingan dengan Pemilu di Indonesia," katanya.
Seperti diketahui, keberadaan server Sirekap di Cloud Alibaba menuai kritik karena dianggap membahayakan, dan secara diam-diam, menurut pakar telematika Roy Suryo, server Sirekap sudah dipindahkan ke Jakarta. (rhm)







