Teheran, Harian Umum - Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran, Esmail Baqaei, menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian yang tak terpisahkan dari setiap kesepakatan akhir yang bertujuan mengakhiri perang antara Iran dan Amerika Serikat.
Dikutip dari Fars News, Selasa (2/6/2026), dalam konferensi pers mingguan pada Senin (1/6/2026) waktu setempat, Baqaei mengatakan bahwa rezim Israel, dengan dukungan AS, telah melancarkan perang terus-menerus dan tanpa akhir terhadap negara-negara di kawasan Teluk selama 80 tahun terakhir.
"Ia menyatakan bahwa perkembangan terkini merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata 8 April antara Israel dan Lebanon," katanya.
Ia mengingatkan Israel bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan komponen integral dari setiap pengaturan gencatan senjata yang lebih luas dan setiap perjanjian akhir untuk mengakhiri perang antara Iran dan AS.
“Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat adalah faktor yang konstan, dan kami meminta Washington bertanggung jawab atas dukungan tanpa syaratnya kepada rezim Israel," imbuh Baqaei.
Ia mencatat bahwa sementara genosida yang dilakukan rezim Israel di Gaza dan Tepi Barat, Palestina, masih berlanjut, Lebanon menyaksikan kejahatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kedaulatan nasional dan integritas teritorialnya berulang kali dilanggar Israel.
"Rezim Israel juga telah berkali-kali melanggar gencatan," tegas Baqaei.
Ia mengakui, negara Zionis itu tetap menjadi ancaman terbesar bagi perdamaian dan keamanan internasional, serta bagi moralitas manusia, dan terus melakukan kejahatan paling keji di Lebanon dan wilayah Palestina yang diduduki.
Ia mengkritik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB karena hanya menjadi pengamat pasif, dan memperingatkan bahwa konsekuensi dari situasi saat ini tidak hanya akan memengaruhi kawasan Teluk, tetapi juga seluruh komunitas internasional.
"Sikap lunak PBB dan Dewan Keamanan PBB dalam menghadapi kejahatan perang rezim Israel pasti akan berdampak serius bagi perdamaian dan keamanan regional maupun global. Masyarakat internasional berkewajiban untuk memenuhi tanggung jawabnya terhadap negara anggota PBB yang menjadi korban Israel," pungkas Baqaei. (man)




