Teheran, Harian Umum - Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei telah mengeluarkan perintah kepada jajarannya bahwa uranium yang telah diperkaya dan telah mencapai tingkat hampir setara senjata nuklir, tidak boleh dikirim ke luar negeri.
Perintah itu diketahui berdasarkan bocoran dua sumber di kalangan pejabat senior Iran sebagaimana dikutip dari Al Arabiya, Jumat (22/5/2026).
"Perintah pemimpin tertinggi, dan konsensus di dalam pemerintahan, adalah bahwa persediaan uranium yang diperkaya tidak boleh meninggalkan Iran," kata salah satu dari kedua sumber Iran itu yang meminta agar namanya tidak disebut.
Para pejabat tinggi Iran, kata sumber-sumber tersebut, percaya bahwa pengiriman material itu ke luar negeri akan membuat Iran lebih rentan terhadap serangan AS dan Israel di masa depan.
"Khamenei telah mengambil keputusan akhir untuk masalah-masalah kenegaraan yang paling penting," kata sumber itu lagi.
Al Arabiya menilai, perintah Mojtaba itu mempertegas sikap Iran atas salah satu tuntutan Presiden AS Donald Trump sebagai syarat penghentian perang, yakni Iran harus menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada Iran.
Selain itu, Trump juga meminta program nuklir itu dihentikan selama 20 tahun dan fasilitas-fasilitas nuklir, termasuk yang berada di Nantanz, dihancurkan.
Al Arabiya meyakini perintah Mojtaba akan membuat Trump semakin frustasi, karena bukan saja gagal mendapatkan apa yang diinginkan, akan tetapi juga dapat menutup peluang untuk mengakhiri perang yang dimulai sendiri oleh AS dan Israel dengan menyerang Iran pada tanggal 28 Februari 2026. Dalih agresi itu adalah karena Iran punya senjata nuklir, padahal tujuan yang sebenarnya adalah untuk menggulingkan pemerintahan Revolusi Islam Iran dan menggantinya dengan rezim boneka yang dipimpin Reza Pahlevi.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengatakan kepada Reuters bahwa telah meyakinkan Israel bahwa persediaan uranium yang sangat diperkaya Iran, yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir, akan dikirim keluar dari Iran dan bahwa setiap kesepakatan perdamaian harus mencakup klausul tentang hal ini.
Netanyahu juga mengatakan, dia tidak akan menganggap perang dengan Iran berakhir sebelum terjadi tiga hal, yaitu uranium yang telah diperkaya Iran dikeluarkan dari negara itu; Iran mengakhiri dukungannya terhadap milisi proksi, seperti Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon; serta kemampuan rudal balistik Iran dimusnahkan.
Kecurigaan para pejabat tinggi Iran
Trump telah memberlakukan gencatan senjata yang rapuh sejak gagal menaklukkan Iran hanya dalam beberapa hari sejak agresi dimulai bersama Israel pada 28 Februari 2026, dan perundingan yang gagal pada 11-12 April 2026.
Trump terpaksa memberlakukan gencatan senjata dan mencoba mengakhiri perang dengan syarat yang ditentukan sendiri oleh negaranya, setelah seluruh pangkalan militernya di negara-negara sekutunya di Teluk, seperti Saudi Arabia, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA), dihancurkan Iran, sementara kota-kota di Israel, terutama Te Aviv, dihancurkan Iran, sehingga kondisinya kini mirip Gaza yang dihancurkan Israel.
Tak hanya itu, kelompok-kelompok proxy dukungan Iran, yakni Hizbullah dan Houthi, turun tangan membantu Iran dengan menyerang Israel.
Tambah parah karena penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kelangkaan minyak secara global dan harga komoditi ini melonjak hingga di atas $100 per barel. Di AS, penutupan Selat Hormuz membuat harga bensin meroket dari sekitar $3 per galon, menjadi sempat menembus $8 per galon. Rakyat AS marah dan berdemonstrasi untuk menuntut Trump mundur.
Laporan Kongres AS terbaru menyebutkan, perang yang dikobarkan Trump terhadap Iran membuat negaranya kehilangan 42 Pesawat karena hancur dan rusak parah, sementara biaya perang yang telah dikeluarkan diperkirakan telah $50 miliar.
Namun, meski laporan intelijen AS terbaru yang dilansir The New York Times pada 13 Mei 2026 juga menyebut bahwa AS dan Israel telah kalah perang dari Iran, Trump tak mau mengakuinya, dan tetap kukuh pada syaratnya yang diajukan kepada Iran untuk menghentikan perang itu, termasuk syarat untuk menyerahkan uranium yang telah diperkaya.
Dua sumber senior Iran mengakui, ada kecurigaan mendalam di Iran bahwa gencatan senjata diterapkan Trump, dan membuat perang terhenti sementara, adalah tipu daya taktis Washington untuk menciptakan rasa aman bagi pihaknya sebelum mereka melanjutkan serangan baru.
"Negosiator perdamaian utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan pada hari Rabu bahwa "langkah-langkah yang jelas dan tersembunyi oleh musuh" menunjukkan bahwa Amerika sedang mempersiapkan serangan baru," kata Al Arabiya.
Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa AS siap untuk melanjutkan serangan lebih lanjut terhadap Teheran jika Iran tidak menyetujui kesepakatan perdamaian, tetapi menyarankan Washington dapat menunggu beberapa hari untuk "mendapatkan jawaban yang tepat."
Kedua pihak telah mulai mempersempit beberapa perbedaan, kata sumber-sumber tersebut, tetapi perpecahan yang lebih dalam tetap ada mengenai program nuklir Teheran - termasuk nasib persediaan uranium yang diperkaya dan tuntutan Teheran untuk pengakuan haknya untuk melakukan pengayaan.
Iran memperkeras pendirian tentang persediaan uranium yang diperkaya
Para pejabat Iran telah berulang kali mengatakan prioritas Teheran adalah untuk mengamankan pengakhiran permanen perang dan jaminan yang kredibel bahwa AS dan Israel tidak akan melancarkan serangan lebih lanjut.
Mereka mengatakan, Iran baru akan siap untuk terlibat dalam negosiasi terperinci mengenai program nuklirnya setelah jaminan tersebut diberikan. Teheran telah lama membantah berupaya mengembangkan bom nuklir.
Israel secara luas diyakini memiliki persenjataan atom, tetapi tidak pernah mengkonfirmasi atau membantah memiliki senjata nuklir, mempertahankan apa yang disebut kebijakan ambiguitas mengenai masalah ini selama beberapa dekade.
Sebelum perang, Iran mengisyaratkan kesediaan untuk mengirimkan setengah dari persediaan uraniumnya yang telah diperkaya hingga 60 persen, tingkat yang jauh lebih tinggi daripada yang dibutuhkan untuk penggunaan sipil.
Namun, sumber-sumber mengatakan bahwa posisi tersebut berubah setelah ancaman berulang dari Trump untuk menyerang Iran.
Para pejabat Israel mengatakan kepada Reuters bahwa masih belum jelas apakah Trump akan memutuskan untuk menyerang dan apakah ia akan memberi Israel lampu hijau untuk melanjutkan operasi. Teheran telah bersumpah akan memberikan respons yang menghancurkan jika diserang.
Namun, sumber tersebut mengatakan ada "rumus yang layak" untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Ada solusi seperti pengenceran persediaan di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional," kata salah satu sumber Iran.
IAEA memperkirakan bahwa Iran memiliki 440,9 kg uranium yang diperkaya hingga 60 persen ketika Israel dan AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Berapa banyak dari itu yang masih tersisa masih belum jelas.
Kepala IAEA Rafael Grossi mengatakan pada bulan Maret bahwa sisa stok tersebut "sebagian besar" disimpan di kompleks terowongan di fasilitas nuklir Isfahan, dan bahwa badan tersebut meyakini sedikit lebih dari 200 kg uranium berada di sana. IAEA juga meyakini sebagian uranium berada di kompleks nuklir Natanz yang luas, tempat Iran memiliki dua pabrik pengayaan.
Iran mengatakan bahwa sebagian uranium yang diperkaya tinggi dibutuhkan untuk keperluan medis dan untuk reaktor penelitian di Teheran yang beroperasi dengan jumlah uranium yang relatif kecil yang diperkaya hingga sekitar 20 persen. (man)







