Jakarta, Harian Umum - Jasad Surakman (60), anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I yang mengangkut rombongan 5 jurnalis, ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, yang berjarak sekitar 347 kilometer dari titik terakhir kapal dinyatakan hilang kontak di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026.
Dengan ditemukannya jasad Surakhman, berarti tujuh orang masih hilang, di mana seorang di antaranya merupakan nahkoda kapal, lima jurnalis dan satu pemandu wisata lokal.
Para korban hilang saat kelima jurnalis akan meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kepala Basarnas Banten Al Amrad mengatakan, pencarian kini mengandalkan informasi dari nelayan, masyarakat pesisir, serta kapal-kapal yang melintas di perairan Banten, Lampung, dan Bengkulu.
"Kami libatkan dengan VTS, termasuk Stasiun Radio Pantai, termasuk para nelayan, termasuk para masyarakat yang di sekitar pesisir Bengkulu, Lampung. Termasuk transportasi-transportasi yang melintas wilayah di sekitar lokasi kejadian," kata Al Amrad kepada wartawan di Mapolda Banten, Rabu (23/9/2026).
Terkait tujuh orang yang masih hilang, Amrad memgatakan kalau hingga saat ini belum ada petunjuk lain mengenai keberadaan kapal maupun ketujuh orang tersebut.
"Kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung yang untuk wilayah pesisir dan para nelayan yang ada di sekitar, hingga saat ini Bengkulu masih melaksanakan koordinasi dan itu nihil," katanya.
Seperti diketahui, saat dinyatakan hilang kontak, BMKG melaporkan bahwa di Selat Sunda sedang terjadi ombak besar hingga 4 meter, dan informasi hal ini telah disampaikan sejak sehari sebelumnya.
Pencarian terhadap para korban dihentikan setelah 10 hari mencari, akan tetapi tanpa hasil, meski wilayah pencarian mencapai 16.840 nautical mile atau mil laut, membentang dari perairan Lampung, Banten hingga Bengkulu. (man)


