Jangan Gengsi! Ini Cara Bertahan Hidup Warga Pinggiran
Jakarta, Harian umum- Ada jutaan orang perantau yang menaruh harapan hidup di Ibukota. Beragam jenis mata pencaharian di pilih perantau guna menjalankan kewajiban nafkah bagi keluarga di kampung halaman.
Mulai dari pegawai negeri, buruh swasta, pekerja bangunan, tukang pangkas rambut, driver ojek online bahkan yang tidak kalah banyak adalah pedagang kopi keliling.
Seperti terlihat di Jalan Asia-Afrika, setiap pagi sering dijumpai pedagang kopi keliling bertepi di pinggiran jalan menuju Gelora Bung Karno tersebut. Mereka menenggerkan sepeda atau motor bergelayut kopi untuk menyambut para pengendara yang menepi. Nampak puluhan driver ojek online pun turut memenuhi pinggiran jalan sambil sesekali saling tukar pengalaman hidup di pusat negeri ini.
Rohiman, 29 th, pria asal Lebak Banten salah satunya. Sejak dua tahun lalu memilih hijrah dari kampung halaman ke Jakarta guna mengadu nasib dengan berjualan kopi menggunakan sepeda mengelilingi sekitaran Jakarta Pusat sampai Selatan. Ayah satu anak ini berharap Jakarta bisa membuat ekonomi keluarganya lebih baik.
"Awalnya saya satpam di Kuningan, tapi ngerasa enggak aman, pernah dikeroyok sama orang sana, akhirnya coba usaha aja di Jakarta," katanya, Jum'at (3/7)
Mulai jam 5.30, Rohiman beserta isteri mulai menyiapkan perangkat dagang. Dua buah termos air panas, satu buah termos tempat es, gelas plastik, beragam kopi dan lain-lain dipajangnya di sepeda. Sebab menggunakan sepeda, Rohiman tidak bisa keliling lebih jauh lantaran jika membutuhkan lagi air panas, sulit mendapatkan.
Ditanya soal pendapatan, Rohiman mengaku menjadi penjual kopi keliling jauh lebih baik dari pada menjadi satpam. Dia mengaku lebih banyak memiliki waktu bebas tapi tetap menghasilkan. Dalam sehari, tidak kurang dari 4 termos air panas terjual. Atau, sekitar 80 gelas kopi dia jual.
"Alhamdulillah..cukup untuk bayar kontrakan, buat makan sama nabung dikit-dikit. 80 gelas lah tiap hari, saya jual kopi kan 4 ribu segelas, kalo beli kopi mentahan di warung 1.500 sampai 2.000 kan, ya Alhamdulillah.." tambahnya.
Disinggung soal krisis akibat pandemi, Rohiman mengaku pasrah saja. Menjalani hidup dengan pasrah jauh lebih bahagia ketimbang diam dan berkeluh kesah.
"Mau gimana lagi kang, pasrah..kan corona nya dari Alloh, krisis nya juga gara gara corona, sabar aja. Bukannya engga panik, saya hanya pasrah gimana yang diatas, saya jalan aja usaha terus," ujarnya.
Sementara mengenai pendapatan ditengah pandemi, lelaki yang ternyata pernah menjadi guru beladiri ini mengaku tidak banyak berpengaruh ke pendapatan, hanya waktu jualan saja lebih panjang.
"Engga sih, dari pertama jualan ya..4 termos, paling bagus 7 termos..cuman, sekarang mah jualan sampai jam 10 malam..dulu sampai jam 5 sore, orang-orang ga ada keluar sekarang kan, paling malem masih ada yang nongkrong," tutupnya
Sambil memberikan uang kembalian, Rohiman mengatakan bahwa hidup gengsian di Jakarta, jangan harap bisa bertahan. (hnk)







