Jakarta, Harian Umum - Anies Baswedan enggan mengomentari kemunculan Ganjar Pranowo dalam tayangan azan magrib di RCTI
"Enggak komentar," katanya saat ditanya soal tayangan itu, usai ziarah Makam Sunan Ampel, di Surabaya, Sabtu (9/9/2023).
Namun, dia kemudian tersenyum.
Seperti diberitakan sebelumnya, tayangan azan magrib yang memunculkan sosok Ganjar mulai terlihat di RCTI kemarin, dan netizen pun heboh karena kemunculan Ganjar dalam tayangan itu jelas merupakan politik identitas, karena azan merupakan salah alah satu simbol Islam, dan selama ini penggunaan politik identitas sangat tidak disukai, bahkan dikritik oleh pemerintahan Jokowi dan para pendukungnya.
Bahkan pada 3 September 2023 lalu, saat menghadiri Tablig Akbar Idul Khotmi Nasional Thoriqoh Tijaniyah ke-231 di Pondok Pesantren Az-Zawiyah, Tanjung Anom, Garut, Jawa Barat, Menteri Agama Yaqut Qolil Qoumas mengimbau masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang memecah belah umat dan menggunakan agama sebagai alat politik.
"Harus dicek betul, pernah nggak calon pemimpin kita, calon presiden kita ini, memecah belah umat. Kalau pernah, jangan dipilih. Juga jangan memilih calon pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan, karena Agama seharusnya dapat melindungi kepentingan seluruh umat, masyarakat. Umat Islam diajarkan agar menebarkan Islam sebagai rahmat, rahmatan lil 'alamin, rahmat untuk semesta alam. Bukan rahmatan lil Islami, tok," katanya..
Menurut Ketua Umum PP GP Ansor ini, pemimpin yang ideal harus mampu menjadi rahmat bagi semua golongan.
"Kita lihat calon pemimpin kita ini pernah menggunakan agama sebagai alat untuk memenangkan kepentingannya atau tidak. Kalau pernah, jangan dipilih," tegasnya.
Selama ini figur yang dituding sebagai pelaku politik identitas adalah Anies. Oleh para buzzer di media sosial, Anies bahkan dijuluki Bapak Politik Identitas. Padahal, ketika kampanye Pilpres 2014 dan 2019, Jokowi sering pamer menjadi imam salat meski tidak fasih membaca Al Fatihah. Apa yang dilakukan Jokowi itu jelas merupakan politik identitas.
Sementara itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengklaim tak ada unsur politik identitas dalam tayangan azan itu. Dia mengatakan, mengajak masyarakat untuk ibadah adalah hal yang baik.
"Kalau politik identitas itu kan politik yang tidak mencerdaskan kehidupan bangsa, politik yang miskin prestasi," kata Hasto usai menghadiri Senam Bersama 1.000 Aktivis Repdem di Jakarta, Sabtu (9/9/2023), seperti dilansir CNN Indonesia. (rhm)







