Jakarta, Harian Umum - Ratusan petani Lampung yang tergabung dalam Perkumpulan Pertani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI), Rabu (24/9/2025), menggelar aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat.
Mereka menuntut pemerintah agar segera menyelesaikan masalahnya, atau mereka akan semakin terpuruk.
"Saat ini, dari 10 bulan lalu, harga singkong sangat rendah, hanya Rp1.350/kilogram," kata Kadek, petani singkong Lampung yang juga merupakan koordinator aksi.
Dengan harga segitu, ketika singkong didistribusikan ke industri/pabrik, petani dikenai potongan atau refaksi sebesar 40-60 persen dari semula hanya 15%. Petani protes.
Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sempat datang ke Lampung untuk mengatasi persoalan ini, dan mengeluarkan surat edaran yang menetapkan bahwa harga singkong Rp1.350/kg, dan refaksi maksimal 15%, akan tetapi tidak dipatuhi pengusaha.
Saat berorasi, Ketua Emak-emak Bergerak Lintas Provinsi Bunda Merry protes keras
"Negara tak boleh kalah dari pengusaha! Kalau Menteri Zulkifli Hasan dan Airlangga Hartarto tak mampu mengatasi ini, mundur saja!" pekiknya.
Ia meminta Presiden Prabowo turun tangan, karena ketidakpatuhan pengusaha terhadap surat edaran Menteri membuat para petani kesulitan menyekolahkan anak-anaknya dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Kadek, dampak pemotongan sebesar 40-60% itu sangat besar. Ia menganalogikan, jika petani singkong panen dua mobil colt, maka yang satu mobil colt untuk industri.
Sementara jika diurai dengan angka, maka jika modal yang dikeluarkan petani sebesar Rp12 juta dan hasil panen senilai Rp25-30 juta, maka uang yang didapat hanya Rp8-10 juta.
"Tidak balik modal, dan ini sudah berlangsung 10 bulan," katanya.
Petani Singkong ini berharap Presiden Prabowo turun tangan mengatasi masalah ini. (rhm)


