Teheran, Harian Umum - Operasi besar-besaran yang dirancang Amerika Serikat (AS) untuk menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz, gagal total.
Operasi yang dikamuflase sebagai operasi penyelamatan atas jatuhnya pesawat F-15E Strike
Eagle di Iran tengah itu justru menimbulkan kerugian besar bagi AS
"Pada tanggal 5 April, pasukan AS melakukan apa yang diklaim oleh para pejabatnya sebagai "operasi penyelamatan cepat" setelah jatuhnya pesawat F-15E Strike Eagle di Iran tengah," kata Al Mayadeen, Selasa (7/4/2026).
Misi tersebut melibatkan aset penerbangan operasi khusus, termasuk pesawat MC-130J Commando II, dan dilakukan jauh di dalam wilayah Iran dengan aktivitas terkonsentrasi di sekitar Isfahan, area yang sangat sensitif secara strategis karena kedekatannya dengan elemen-elemen kunci infrastruktur nuklir Iran, yaitu uranium yang diperkaya.
Lokasi fasilitas nuklir itu berada di Natanz.
"Menurut laporan AS, operasi tersebut merupakan misi pencarian dan penyelamatan tempur (CSAR) yang sensitif terhadap waktu yang bertujuan untuk mengevakuasi anggota kru yang selamat dari pesawat yang jatuh setelah pencarian selama 36 jam. Washington mengklaim bahwa misi tersebut melibatkan keterlibatan langsung dengan pasukan Iran dan diakhiri dengan keberhasilan penyelamatan pilot, meskipun mengalami kerusakan dan korban jiwa," kata Al Mayadeen lagi.
Namun, otoritas militer Iran menyajikan versi peristiwa yang sangat berbeda. Pernyataan Iran menggambarkan operasi tersebut bukan sebagai upaya penyelamatan terbatas, tetapi sebagai serangan yang gagal yang melibatkan beberapa aset udara AS, yang dicegat dan dihancurkan setelah tindakan defensif yang cepat.
"Para pejabat Iran menunjuk pada inkonsistensi narasi dalam operasi penyelamatan AS itu, terutama pada lokasi penyelamatan yang dilaporkan relatif jauh dari lokasi jatuhnya pesawat," jelas Al Mayadeen.
Narasi yang tidak sinkron itu memicu spekulasi tentang tujuan sebenarnya operasi tersebut, karena di luar dimensi taktis langsung dari pemulihan personel, operasi ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah operasi tersebut berfungsi sebagai penyelidikan untuk serangan udara-darat yang lebih kompleks yang menargetkan infrastruktur strategis Iran, khususnya program nuklirnya?
Iran langsung melakukan analisis militer terstruktur terkait insiden itu. Mereka memeriksa urutan peristiwa seperti yang disajikan oleh sumber-sumber Iran dan AS, menilai kerugian yang dilaporkan dan hasil operasional, serta menyimpulkan bahwa operasi AS itu berada dalam konteks strategis dalam rangka meningkatkan agresi terhadap Iran.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, juga merilis informasi yang kurang lebih sama. Media ini menyebut bahwa AS melakukan operasi terselubung di Isfahan untuk tujuan tertentu, bukan untuk menyelamatkan awak pesawat yang jatuh di sana.
"Pasukan Penegak Hukum Iran (Faraja) merilis video lokasi jatuhnya pesawat Amerika dan dokumen pilot pesawat C-130 yang ditembak jatuh. Menyusul laporan tentang hancurnya pesawat pendukung C-130 Amerika di wilayah selatan Isfahan, polisi Iran merilis gambar baru operasi penanggulangan pesawat musuh di wilayah tersebut," kata Tasnim, Selasa (7/4/2026)
Menurut Faraja, sebuah pesawat pendukung milik pasukan Amerika pada Senin (6/4/2026) dihancurkan oleh tembakan unit pasukan khusus polisi. Sumber lokal juga melaporkan bahwa pesawat tersebut ditembak jatuh di wilayah selatan provinsi Isfahan.
Video tersebut berisi gambar dokumen dan peralatan yang ditinggalkan oleh pilot pesawat ini, di mana di pilot disebutkan merupakan seorang wanita.
"Publikasi gambar-gambar ini memberikan pencerahan baru pada operasi ini dan sekali lagi menunjukkan kemampuan dan kesiapan pasukan khusus polisi untuk menghadapi ancaman musuh," tegas Tasnim.
Sejumlah akun X juga membongkar kegagalan operasi terselubung AS itu.
"Mantan perwira CIA, Larry Johnson, mengkonfirmasi bahwa Pentagon berbohong kepada publik. Pesawat F-15 Amerika yang ditembak jatuh di Iran sebenarnya sedang mempersiapkan serangan darat besar-besaran terhadap fasilitas nuklir di Natanz. Operasi penyelamatan berubah menjadi bencana total," kata @SprinterPress.
"Trump mengirim ratusan pasukan operasi khusus AS ke Iran untuk merebut uranium dari Natanz. Mereka gagal, kehilangan sekitar $500 juta peralatan dan menderita banyak korban jiwa (cedera) di antara pasukan mereka. Iran mempermalukan badut itu...," kata pemilik akun @jacksonhinklle.
'Kisah sebenarnya yang disembunyikan Pentagon tentang operasi pendaratan yang gagal di dekat Isfahan, Iran, tadi malam adalah bahwa misi tersebut bukan tentang menyelamatkan pilot, tetapi kemungkinan besar tentang menyerang salah satu situs nuklir di Isfahan dan mengambil uranium mereka," kata @drhossamsamy65.
Akibat operasi terselubung yang gagal itu, AS makin banyak kehilangan pesawatnya sejak negara itu dan Israel menyerang Iran pada tanggal 28 Februari.
Akun @Megatron_ron memposting daftar nasib pesawat AS yang terlibat dalam operasi penyelamatan tersebut:
Kerugian yang dikonfirmasi (jumlah saat ini):
- 1 unit F-15E Strike Eagle — hancur
- 2 unit helikopter HH-60 — rusak
- 1 unit MH-6 Little Bird — hancur
- 1 unit A-10 Thunderbolt II — hancur
- 2 unit C-130 Hercules — hancur
- 1-2 unit MQ-9 Reaper — hancur
Kerusakan yang mungkin terjadi/belum terkonfirmasi:
- 1 unit F-16 Fighting Falcon emergency squawk
- 1 unit KC-135 Stratotanker — alarm darurat
- 1unitvA-10 Thunderbolt II (kemungkinan pendaratan darurat (diragukan)
(man)





