Jakarta, Harian Umum - Para aktivis yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) dan didominasi kaum emak-emak bersumpah takkan berhenti berjuang sebelum Presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur dan terbentuk pemerintahan yang pro rakyat dan bukan antek asing dan aseng.
Terbukti, pada Rabu (5/7/2024) sekitar pukul 15:00 WIB. para aktivis yang biasanya hanya dapat menggelar aksi di Patung Kuda karena akses menuju Istana Negara ditutup, berhasil mendekati kantor tempat Presiden Jokowi berkantor itu, meski hanya sampai Harmoni.
"Kami kumpul di Perempatan Harmoni dan tadinya mau longmarch ke Istana, tapi dihalangi aparat. Mereka bahkan memaksa kami untuk bergeser ke Patung Kuda, tetapi kami tolak, sehingga sempat terjadi gesekan di antara kami karena kami dikepung. Akhirnya, setelah negosiasi, kami dipersilakan menggelar aksi di depan kantor BTN Harmoni," kata Presidium ARM Ida N Kusdiati melalui siaran tertulis, Jumat (7/6/2024).
Ia menyebut ada sejumlah isu yang diusung, selain menolak Program Tapera yang membuat gaji pekerja dipotong 3 persen per bulan, juga soal uang kuliah tunggal (UKT) yang membuat biaya masuk perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi sangat mahal, praktik korupsi yang makin menggila, dan maraknya perampasan lahan rakyat oleh mafia tanah.
"Intinya, ARM meminta agar semua kebijakan yang menindas dan "memeras" rakyat dicabut, disetop dan dihapus," tegas Ida
Dari video dan foto yang diterima harianumum.com terlihat aksi ARM di depan kantor BTN Harmoni lumayan heboh, karena jarang sekali ada aksi unjuk rasa digelar di sana.
"RING 1 ISTANA sudah di singgahi emak-emak. What's next??" kata Ida.
Ia mengakui kalau ARM konsisten mengusung tagline "JOKOWI MUNDUR" setiap turun ke jalan.
"Kami takkan berhenti sebelum tujuan kami tercapai," tegas Ida.
Dijelaskan, mengapa emak-emak takkan lelah berjuang, karena intuisi emak-emak kadang memang lebih tajam, terutama dalambmenyikapi kondisi negara saat ini.
Sebab, ketika harga-harga kebutuhan melambung, uang kuliah meroket, dan penghasilan suami tidak seimbang dengan laju kenaikan harga kebutuhan, emak-emak lah yang paling merasakan dampak ya.
"Maka, jangan heran kalau saat mereka sudah keluar dapur dan berkumpul untuk menyuarakan aspirasi lewat orasi yang menohok, para aparat pun melongo dan kelabakan dengan kelakuan emak emak sebagaimana yang terjadi di Harmoni kemarin," tegas Ida.
Ia berharap para elit bangsa ini melihat perjuangan emak-emak, dan menghargai serta menyikapinya dengan bener demi bangsa dan negara ini ke depan.
'Jangan salahkan emak-emak, karena kondisilah yang memaksa mereka untuk mengambil sikap dan melakukan sesuatu seperti saat ini. Tujuannya hanya satu! untuk menjaga hak dirinya dan hak anak cucunya,' tegas Ida.
Seperti diketahui, sejak Jokowi menduduki jabatan presiden RI ke-7 pada tahun 2014 hingga sekarang, Indonesia selalu gaduh dan bahkan semakin gaduh, bahkan membuat para emak-emak akhirnya turun ke jalan, hal yang jarang sekali terlihat di era pemerintahan sebelumnya sepanjang reformasi bergulir sejak 1998.
Hal itu disebabkan oleh kebijakan-kebijakan Jokowi yang cenderung menyusahkan rakyat, seperti pencabutan subsidi, kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik yang terus menerus, revisi UU KPK yang membuat korupsi dinilai menjadi makin menggila dibanding di era Orde Baru, penerbitan Omnibus Law UU Cipta Kerja yang membuat kehidupan pekerja makin terhimpit, abai terhadap aspirasi rakyat, dan lain-lain.
Belum lagi dalam praktik ketatanegaraan, Jokowi cenderung gemar menabrak aturan perundang-undangan, bahkan konstitusi, sebagaimana tercermin dalam penerbitan Omnibus Law UU Cipta Kerja, UU Kesehatan, gagasan tentang Proyek IKN, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dan banyak lagi.
Jokowi juga dicap sebagai pembohong karena janji-janji kampanyenya tidak direalisasikan, termasuk janji menciptakan 10 juta lapangan kerja, tidak impor dan pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen.
Bahkan, meski utang negara tembus Rp8.000 triliun lebih, tapi besarnya utang itu tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya mentok di angka 5 persenan.
Puncak kemarahan emak-emak terhadap Jokowi terjadi pada Pilpres 2024 karenan Jokowi diduga terlibat dalam keterlibatan Jokowi pada kecurangan Pilpres 2024 yang dimenangkan pasangan Prabowo Subianto dan anak sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, demi ambisi untuk terus berkuasa.
Sebelumnya, pada Pilpres 2019, Jokowi juga diduga curang agar dapat menjadi presiden dua periode. (rhm)


