Jakarta, Harian Umum - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump lagi-lagi tak jadi menyerang Iran, meski ancamannya yang terakhir yang disampaikan Rabu (10/6/2026) , ia mengatakan akan menyerang Iran dengan lebih keras.
Pembatalan Trump menyerang Iran disampaikan Kamis (11/6/2026), melalui akun Truth Social-nya.
Trump beralasan, pembatalan itu dilakukan karena telah terjadi kesepakatan besar dengan Iran.
"Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini," tulis Trump, dikutip dari AFP, Jumat (12/6/2026).
Politisi Partai Republik itu mengeklaim, poin-poin penting dalam kesepakatan telah disetujui oleh AS dan para sekutu regionalnya, termasuk Israel.
"Waktu dan tempat penandatanganan akan segera diumumkan," katanya.
Namun, Kantor Berita Tasnim mengutip sumber-sumber terpercayanya melaporkan bahwa klaim Trump tidak benar.
"Teks kesepahaman antara Iran dan AS belum disetujui oleh otoritas yang berwenang di Iran," kata Tasnim, Jumat (12/6/2026).
Penelusuran lanjutan koresponden Tasnim dengan sumber-sumber yang terinformasi menunjukkan bahwa perkembangan terbaru dari perundingan AS-Iran adalah tekanan militer dan diplomatik AS untuk mengubah teks MoU yang terdiri dari 14 pasal, tidak membuahkan hasil, dan AS telah mengumumkan melalui mediator Qatar bahwa tidak perlu ada amandemen terbaru yang diajukan oleh Washington.
"Menurut sumber-sumber ini, Trump telah mencoba dalam beberapa hari terakhir untuk mengubah posisi Iran melalui tekanan, ancaman, dan tindakan militer, serta melalui tekanan dari mediator Qatar, tetapi pada akhirnya Iran tidak menerima perubahan baru tersebut," jelas Tasnim.
Namun, lanjut kantor berita semi-resmi Iran itu, teks tersebut masih perlu ditinjau dan diselesaikan oleh badan-badan terkait di Iran.
Sebelumnya, beberapa media mengklaim bahwa draf perjanjian antara Iran dan AS telah diselesaikan. Klaim Presiden AS Donald Trump bahwa kesepakatan dengan Iran sudah di depan mata juga telah ditolak oleh para pejabat Iran.
"Klaim media-media itu tidak valid," tegas Tasnim. (man)







