Jakarta, Harian Umum - Juru bicara (jubir) PDIP, Guntur Romli, mengakui kalau pengaruh mantan Presiden Joko Widodo alias Jokowi masih kuat di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, karena orang-orang masih eksis di sana, termasuk di KPK.
Karena hal itu, ia bahkan mengatakan bahwa penetapan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto sebagai tersangka oleh Kapak ibarat 'nabok nyilih tangan' atay menampar pakai tangan orang lain.
"Kalau bahasa Jawanya 'nabok nyilih tangan', menampar pakai tangan orang lain. Pimpinan KPK saat ini proses seleksi dan pemilihannya di era siapa? Petinggi-petinggi negara, khususnya penegak hukum, siapa yang memilih dan mengangkat? Pengaruh Jokowi masih sangat kuat," kata Guntur seperti dikutip dari detikcom, Minggu (29/12/2024).
Ia juga merujuk pada opini publik, terutama yang beredar di media sosial, di mana Presiden Prabowo masih tunduk pada Jokowi.
"Apalagi kalau kita lihat di opini publik, medsos misalnya, bagaimana Pak Prabowo, Presiden, masih menunduk-nunduk ke Jokowi," katanya.
Guntur juga menyebut pengaruh Jokowi masih kuat di pemerintahan Prabowo, karena orang-orang Jokowi masih berkuasa.
"Presiden boleh berganti, tapi yang disebut 'orang-orang Jokowi' masih berkuasa di negeri ini," katanya.
Seperti diketahui, pengumuman Kabinet Merah Putih Prabowo pada tanggal 21 Oktober 2024 silam menuai kritik karena setidaknya ada 13 menteri di era pemerintahan Jokowi yang kembali dipilih menjadi menteri, seperti Sri Mulyani, Airlangga Hartarto, Zulkifli Hasan dan Bahlil Lahadalia.
Tak hanya di jajaran menteri, orang Jokowi juga bertebaran di penasehat khusus, dan utusan khusus presiden.
Di jajaran penasehat khusus misalnya, ada Wiranto yang diangkat menjadi sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan; Luhut Binsar Pandjaitan yang diangkat menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Digitalisasi dan Teknologi Pemerintahan; dan Dudung Abdurachman yang dijadikan Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional, Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan.
Luhut merupakan orang yang disebut-sebut memiliki peranan sangat penting dalam menjadikan Jokowi sebagai gubernur Jakarta melalui Pilkada 2017 dan presiden RI ke-7 dua periode (2014-2019 dan 2019-2024).
Sementara di jajaran utusan khusus, orang Jokowi yang diangkat Prabowo di antaranya adalah Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah (Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan; Raffi Farid Ahmad (Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni); Ahmad Ridha Sabana/Ketum Partai Garuda (Utusan Khusus Presiden Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Ekonomi Kreatif dan Digital); dan Zita Anjani/politisi PAN (Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata).
Gus Miftah telah mengundurkan diri akibat skandal penghinaan terhadap pedagang es teh.
Masih kuatnya power Jokowi juga menjadi pergunjingan publik ketika Presiden Prabowo bolak balik menemui Jokowi di Solo, meski status Jokowi adalah mantan presiden.
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah mengatakan, Jokowi sangat kuat karena dia adalah orang yang "diciptakan" oleh elit global untuk kepentingan mereka menguasai Indonesia.
"Jadi, Jokowi sebetulnya bukan apa-apa, kekuatan di belakang dia dan yang mengendalikan dia lah yang membuat dia terlihat hebat dan menjadi ditakuti," katanya di Jakarta, Minggu (29/12/2024). (rhm)







