Jakarta, Harian Umum - Kepala Central Command (CENTCOM) atau Pusat Komando AS, Laksamana Brad Cooper, mengklaim telah menghancurkan 90% basis industri pertahanan Iran, sehingga negara itu tak bisa lagi menyerang dengan skala sebesar sebelumnya
Cooper bahkan mengatakan, kehancuran itu membuat Iran takkan mampu membangun kembali kekuatannya selama bertahun-tahu.
“Saat ini Iran tidak lagi dapat menyerang dengan kekuatan dan skala (sebelumnya), karena 90% basis industri pertahanannya hancur, sehingga Iran tidak akan mampu membangun kembali kekuatan selama bertahun-tahun,” kata Cooper dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat (SASC) di Washington, AS, dikutip dari Al Arabiya, Jumat (15/5/2026).
Selain sangat melemahkan kekuatan dan kemampuan militer Iran, Cooper juga mengatakan bahwa proksi regional utama Iran, yaitu Hamas, Hizbullah, dan Houthi tak lagi mendapat pasokan senjata dan dukungan senjata Teheran.
Cooper memuji dukungan dari negara-negara Arab yang menjadi sekutu AS yang ikut membantu melemahkan Iran, juga kemampuannya membela negara masing-masing.
Negara-negara dimaksud adalah UEA, Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan tentunya Israel.
“Namun ada beberapa negara regional yang “kurang memuaskan",” sambung Cooper tanpa menjelaskan negara-negara dimaksud.
Cooper mengakui, seiring berjalannya perang dan Iran mengerahkan sejumlah besar drone murah namun efektif, Washington meminta bantuan Ukraina.
"Militer AS mengadopsi “sejumlah besar taktik, teknik, dan prosedur” yang digunakan Ukraina untuk membantu mempertahankan diri dari serangan Iran tersebut," katanya.
Ketika ditanya tentang perang itu sendiri dan ancaman yang berasal dari Iran, Cooper mengatakan AS mulai melihat peningkatan kemampuan dan niat Iran untuk memproduksi lebih banyak rudal balistik pada November dan Desember lalu.
"Hal ini menimbulkan risiko yang sangat signifikan, baik bagi mitra maupun kita sendiri,” katanya.
Cooper mengingatkan para anggota parlemen dan publik tentang rekam jejak Iran melawan AS.
“Rekam jejak Iran yang bermusuhan dan mematikan terhadap AS telah terdokumentasi dengan baik, tetapi saya tidak yakin apakah hal itu dipahami dengan baik. Dalam 30 bulan sebelum Epic Fury, kelompok teror yang didukung Iran menyerang pasukan dan diplomat AS lebih dari 350 kali,” katanya.
Saat ditanya tentang laporan terbaru yang menyatakan bahwa Iran saat ini memiliki antara 70 dan 75 persen rudal dan peluncurnya yang tersedia, tanpa membahas detail spesifik, Cooper menepis laporan itu
"Angka-angka ini tidak akurat," katanya. (man)





