Jakarta, Harian Umum - Perang narasi sedang terjadi di tengah gencatan senjata yang secara sepihak diperpanjang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, setelah Iran menolak untuk kembali berunding setelah kegagalan negosiasi pada 11-12 April, dan perairannya hingga kini masih diblokade Trump.
Terbaru, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengomentari polemik biaya yang telah dihabiskan AS untuk berperang dengan negaranya. Semula, pejabat senior Pentagon kepada Kongres mengatakan bahwa biaya yang digunakan sebesar $25 miliar. Namun, kongres tidak percaya. CBS News mengutip narasumbernya yang tahu tentang biaya itu, menyebut bahwa biaya yang telah digunakan hampir $50 miliar.
"Pentagon menyembunyikan biaya finansial sebenarnya dari agresi militer AS terhadap Iran,' kata Araqchi dilansir Tasnim News Agency, Sabtu (2/5/2026).
Ia meyakini, biaya yang dikeluarkan AS untuk melakukan agresi ke negaranya jauh lebih besar dari yang disebut Pentagon.
Melalui unggahan di akun X-nya pada Jumat (1/5/2026), Araqchi mengatakan, agresi AS ke Iran yang dipicu provokasi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, telah menempatkan AS pada pertaruhan yang merugikan keuangan AS.
Ia bahkan menyebut, biaya yang telah dihabiskan AS untuk melakukan agresi ke negaranya, mencapai lebih dari $100 miliar.
Seperti pernah diberitakan sebelumnya, Trump memutuskan untuk menyerang Iran, karena Netanyahu yakin Iran negara lemah yang mudah ditaklukkan dalam beberapa hari. Kebetulan, AS dan Israel punya kepentingan yang sama, yaitu menggulingkan Pemerintah Revolusi Iran yang saat ini berkuasa, dan menggantinya dengan rezim boneka yang dipimpin Reza Pahlevi, sekutu mereka.
Dan sebagaimana kita tahu, Netanyahu keliru, karena sejak agresi pada tanggal 28 Februari, hingga kini perang masih berlangsung, meski saat ini sedang dijeda oleh perpanjangan gencatan senjata sepihak oleh Trump.
“Pentagon berbohong. Pertaruhan Netanyahu telah secara langsung merugikan Amerika sebesar $100 miliar sejauh ini, empat kali lipat dari yang diklaim,” kata Araqchi.
Menurut dia, tingginya biaya agresi itu berpengaruh langsung bagi para wajib ajak di Amerika, karena tagihan pajak bulanan mereka akan terus meningkat untuk menutupi biaya agresi tersebut
“Biaya tidak langsung bagi wajib pajak AS jauh lebih tinggi. Tagihan bulanan untuk setiap rumah tangga Amerika adalah $500 dan terus meningkat dengan cepat,” kata Araqchi.
Menteri Luar Negeri Iran ini juga beranggapan bahwa hal ini mengindikasikan bahwa bagi para elit di AS, kepentingan Israel adalah yang utama, sementara kepentingan AS dan rakyatnya adalah yang terakhir.
“Israel selalu yang pertama, berarti Amerika yang terakhir,” kata Araqchi.
Sebelumnya, merujuk pada data federal, Fox Business mengungkap bahwa utang nasional AS untuk pertama kali sejak setelah Perang Dunia II, telah melampaui ukuran ekonominya.
"Angka yang diterbitkan pada Kamis (30/4/2026) oleh Biro Analisis Ekonomi menunjukkan bahwa utang publik mencapai $31,27 triliun per 31 Maret, sementara produk domestik bruto (PDB) nominal berada di angka $31,22 triliun selama 12 bulan yang berakhir pada Maret," kata Al Mayadeen mengutip Fox Business, Jumat (1/5/2026).
Data tersebut menempatkan utang publik di atas 100% dari PDB, ambang batas utama yang digunakan oleh para ekonom untuk menilai pinjaman pemerintah relatif terhadap output ekonomi.
Besarnya utang itu disebut-sebut juga diakibatkan oleh agresi AS ke Iran yang berdampak pada meroketnya harga minyak dunia, termasuk di AS, karena Iran menutup Selat Hormuz.
Klaim AS Serang Iran untuk 'Pembelaan Diri' Ditolak
Terpisah, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menolak klaim Washington bahwa agresi AS-Israel terhadap Iran yang memicu perang berkepanjangan, dilakukan untuk membela diri.
Baqaei mengatakan bahwa tidak ada serangan bersenjata oleh Iran terhadap AS yang dapat membenarkan klaim tersebut.
Dalam sebuah unggahan di akun X-nya, Jumat (1/5/2026), Baqaei mempertanyakan dasar hukum argumen AS itu, dan mengingatkan bahwa tidak ada serangan Iran terhadap AS, sehingga menurutnya, tindakan agresi militer AS dan Israel terhadap Iran tidak dapat dianggap sebagai pembelaan diri. Sebaliknya, merupakan tindakan agresi terhadap bangsa Iran.
“‘Pembelaan diri’ terhadap apa? Apakah ada ‘serangan bersenjata’ oleh Iran untuk membenarkan ‘pembelaan diri’? Tentu saja tidak! Jadi, ini sama sekali BUKAN 'pembelaan diri', ini adalah tindakan AGRESI terhadap negara Iran,” tegasnya.
Seperti diketahui, awalnya Trump mengaku menyerang Iran karena negara itu bisa menjadi ancaman bagi AS, karena Iran mengembangkan senjata nuklir, akan tetapi kemudian terbukti klaim itu tanpa bukti, karena yang punya senjata nuklir adalah Israel.
Kemudian ketahuan bahwa AS dan Israel menyerang Iran untuk mengganti Rezim Revolusi yang sedang berkuasa dan menggantinya dengan rezim yang dapat mereka atur dan kendalikan, alias rezim boneka. Apalagi sebelumnya juga terungkap kalau demo besar-besaran yang terjadi di Iran pada Desember 2025 yang mengusung tema anti pemerintah Iran, melibatkan CIA dan Mossad. (rhm)







