Jakarta, Harian Umum - Peringatan 50 Tahun Malari dan 24 Tahun Indemo (Indonesia Democracy Monitor) dengan tema "Pertahankan Demokrasi" di Theater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/1/2024), kisruh.
Pasalnya, saat masuk sesi diskusi setelah pemotongan tumpeng, terjadi keributan karena beberapa orang berteriak-teriak meminta Indemo yang dipimpin Tokoh Malari Hariman Siregar, jangan hanya membuat diskusi, tetapi juga turun ke lapangan untuk membuat gerakan nyata.
Ada dua isu yang diusung oleh mereka yang berteriak-teriak, yaitu pemakzulan (impeachment) Presiden Jokowi, dan Pemilu Tanpa Jokowi.
Wartawan senior Hersubeno Arif yang menjadi moderator diskusi, sempat kewalahan mengatasi orang-orang yang berteriak itu, apalagi karena di antara mereka ada yang meminta agar narasumber diskusi diganti, dan ada pula yang meminta agar Hariman saja yang bicara.
Hersubeno pun mengalah dan bertanya kepada floor siapa saja yang diinginkan menjadi narasumber, dan sejumlah nama diteriakkan sejumlah orang dari kursi penonton di bawah panggung. Akhirnya, Konsultan Politik Eep Saefulloh Fatah, Pengamat Militer dan Pertahanan Connie Rahakundini Bakrie, dan Ekonom Faisal Basri diminta naik panggung untuk menyampaikan pendapat dan pikirannya.
Sementara Hariman yang kemudian naik ke panggung, meminta mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo untuk juga naik ke panggung.
Hariman marah sekali kepada orang-orang yang berteriak itu. Ia mengatakan kalau acara utama hari ini adalah yang telah mereka lakukan tadi, yakni makan-makan.
"Teman-teman, mereka (yang menjadi narasumber diskusi) ini sekolah, (bergelar) doktor, kalau mau ribut saya gak perlu bikin acara ini. Kalian yang teriak-teriak, sok jago saja. Kalau berani pergilah sekarang (untuk melakukan aksi)," katanya.
Hariman kemudian menutup acara meski waktu belum memasuki pukul 15:00 WIB, karena sesuai undangan acara berlangsung pada pukul 11:00 - 15:00 WIB.
Ketua Gerakan Perubahan Muslim Arbi menilai, keributan itu mencerminkan bahwa aktivis yang berteriak-teriak itu sudah tidak tahan pada kondisi saat ini, dan ini, menurut dia, sebenarnya bisa jadi peringatan bagi Hariman agar Indemo tidak lagi sekedar memonitor, tetapi juga bertindak secara nyata agar demokrasi di Indonesia terawat, terjaga, dan jangan dibiarkan rusak berlarut-larut.
"Dengan adanya keluarga Jokowi bermain sendiri, ini mengakibatkan demokrasi kita hancur lebur, konstitusi kita rusak. Jadi, keributam tadi itu sebenarnya (upaya agar) bagaimana Bang Hariman bersikap untuk memimpin gerakan bagi teman-teman yang hadir ini, di mana tadi ada usulan pemakzulan atau impeachment terhadap Jokowi, dan Pemilu tanpa Jokowi," katanya.
Muslim menyinggung soal amanat Rizal Ramli yang diungkap Hariman saat pemakaman ekonom yang juga tokoh gerakan itu, yakni Rizal Ramli ingin Jokowi diturunkan sebelum Pemilu pada 14 Februari 2024 mendatang.
Menurut Muslim, amanat itu seharusnya menjadi momen bagi Hariman untuk memimpin pelaksanaan amanat Rizal Ramli, apalagi karena saat ini DPR telah membuka pintu untuk pemakzulan Jokowi dan anggota DPR dari Fraksi PDIP, Masinton Pasaribu, pernah mengusulkan kepada DPR untuk menggunakan hak interpelasi guna mengetahui benar tidaknya gugatan bahwa ijazah Jokowi palsu.
Selain itu, kata Muslim, Petisi 100 tengah giat berupaya memakzulkan Jokowi, dan mahasiswa pun membuat gerakan tolak Politik Dinasti yang dibangun Jokowi.
"Jadi, Hariman sebenarnya bisa bergerak bersama mereka," katanya.
Ketika ditanya apa kendala yang dihadapi Hariman? Muslim mengatakan tak tahu.
'Mungkin Bang Hariman punya pemikiran sendiri, sehingga tadi pun dia memutuskan untuk tidak meneruakan acara sampai selesai tetapi selama ini Bang Hariman punya pertemanan dengan kalangan elite. Jadi, bisa juga ada isu-isu tertentu yang dia tahu, tapi kita tidak," katanya.
Namun, Muslim juga mengatakan bahwa ia pernah bincang-bincang kecil dengan Indemo, dan menurutnya pun apa yang dilakukan Indemo sebaiknya tidak berhenti di ruang kecil saja.
"Kalau pada tahun 1974 Bang Hariman bisa bikin sejarah, Hari ini pun Bang Hariman bisa punya peran sejarah, karena sebagai tokoh Malari dan juga tokoh pergerakan saat mahasiswa, Bang Hariman punya kharisma," tutup Muslim. (rhm)






